Mungkin inilah hasil yang saya peroleh dari uték-uték hp, kiranya sangat sederhana bagi anda,tapi bagi saya, sangatlah melegakan. . . .
Tujuan kami, tidak lain hanyalah untuk saling berbagi, krena hidup terasa indah dengan berbagi..
Thanks telah mampir !
dari kami selamat membaca
Laman
Selasa, 14 Juni 2011
Masehi: Tanggal yang Menyesatkan?
Rabu, 13 April 2011
ANALISIS WACANA...
Wacana adalah kata yang sering dipakai masyarakat dewasa ini. Banyak pengertian yang merangkai kata wacana ini. Dalam lapangan sosiologi, wacana menunjuk terutama dalam hubungan konteks sosial dari pemakaian bahasa. Dalam pengertian linguistik, wacana adalah unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat.Sedangkan menurut Michael Foucault (1972), wacana; kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.
Rabu, 09 Maret 2011
Aliran-aliran dalam filsafat
Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat sangat banyak dan kompleks. Di bawah ini akan kita bicarakan aliran metafisika, aliran etika, dan aliran-aliran teori pengetahuan.
A. Aliran-Aliran Metafisika
Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu (1) yang mengenai kuantitas (jumlah) dan (2) yang mengenai kualitas (sifat).Yang mengenai kuantitas terdiri atas (a) monoisme, (b) dualisme, dan (c) pluralisme. Monisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada ini adalah esa (satu). Menurut Thales: air menurut Anaximandros: 'apeiron' menurut Anaximenes: udara. Dualisme adalah aliran yang berpendirian bahwa unsure pokok sarwa yang ada ini ada dua, yaitu roh dan benda. Pluralisme adalah aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Menurut Empedokles: udara, api, air dan tanah.
Yang mengenai kualitas dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni (a) yang melihat hakikat kenyataan itu tetap, dan (b) yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian. Yang termasuk golongan pertama (tetap) ialah:
" Spiritualisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh."
" Materialisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat materi."
Yang termasuk golongan kedua (kejadian) ialah:
" Mekanisme, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab-akibat."
" Aliran teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama."
" Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu
tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah
terpasti lebih dahulu."
" Indeterminisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yang seluas-luasnya."
B. Aliran-Aliran Etika
Aliran-aliran penting dalam etika banyak sekali, diantaranya ialah:
1)Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sekali.
2) hwa hakikat itu bersifat roh."
" Materialisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat materi."
Yang termasuk golongan kedua (kejadian) ialah:
" Mekanisme, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab-akibat."
" Aliran teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama."
" Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu
tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah
terpasti lebih dahulu."
" Indeterminisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yang seluas-luasnya."
B. Aliran-Aliran Etika
Aliran-aliran penting dalam etika banyak sekali, diantaranya ialah:
1)Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sekali.
2) Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan 'hedone' (kenikmatan dan kelazatan).
3) Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility = manfaat).
4) Aliran etika idealisme, yaitu aliran yang menilai baik buruknya perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.
5 Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yang menilai baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.
6)Aliran etika theologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).
C. Aliran-Aliran Teori Pengetahuan
Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku.
Pertama, golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan. Termasuk ke dalamnya:
" Rationalisme, yaitu aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa manusia."
" Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap pancainderanya".
" Kritisisme (transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri."
" Kedua, golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia. Termasuk ke dalamnya:"
" Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yang baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yang baik tergambarkan kebenaran seperti sungguh-sungguhnya ada."
" Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu sekaliannya terletak di luarnya."
D. Aliran-Aliran Lainnya Dalam Filsafat
Di samping aliran-aliran di atas, masih banyak aliran yang lain dalam filsafat. Aliran-aliran itu antara lain ialah:
1) Eksistensialisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yang kongkret, yaitu manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak ini. maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.
2) Pragmatisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak di dalam kehidupannya.
3) Fenomenologi, yaitu aliran yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan kita dengan realitas.
4) Positivisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya semata-mata berpangkal pada peristiwa yang positif, artinya peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.
5) Aliran filsafat hidup, yaitu aliran yang berpendapat bahwa berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan dengan seluruh kepribadian sehingga filsafat itu tidak hanya hal yang mengenai berpikir saja, tetapi juga mengenai ada, yang mengikutkan kehendak, hati, dan iman, pendeknya seluruh hidup
2. Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.
S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan 'nation', ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.
Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik.
Rabu, 23 Februari 2011
PENGETAHUAN FILSAFAT
sejenis pengetahuan yang
berusaha mencari sebab yang
sedalam-dalamnya bagi segala
sesuatu berdasarkan akal
pikiran belaka.
Filsafat terdiri atas tiga cabang
yaitu : Ontologi, epistemologi
dan aksiologi.
Ontologi membicarakan hakikat
(segala sesuatu), in berupa
pengetahuan tentang hakikat
segala sesuatu.
Epistemologi, cara memperoleh
pengetahuan itu.
Aksiologi, membicarakan guna
pengetahuan itu.
Rabu, 09 Februari 2011
SEBUAH PEMIKIRAN DARI HASIL PEMIKIRAN
memenangkan perdebatan
dengan seseorang ?? apakah
semua pemikiran-pemikiran anda
adalah murni sebuah
perenungan dan kesadaran
anda ??
pernahkah anda merasa
tentram menjalankan agama
yang anda anut karena anda
telah mengenal agama itu benar-
benar melalu hati dan
pengolahan akal anda ??
dewasa ini banyak penulis buku
dan pencetus ide-ide atao
ideologi-ideologi adalah orang-
orang yang hanya mengcopy
hasil dari pemikiran orang lain.
banyak orang merasa bangga
mampu mencetuskan ide baru
yang belum pernah ada,padahal
ide itu adalah hasil pemikiran
orang lain yang dia campurkan
dengan hasil pemikiran orang
lain yang lainnya lagi dan di
kombinasikan juga oleh sedikit
hasil pemikirannya.semua adalah
permainan akal yang di
kontaminasi oleh keadaan
sekitar kita.
saat si A memperoleh hadiah
nobel sebagai seorang yang
pertama kali menemukan
sebuah penemuan baru di
bidang apapun,dia merasa
bahwa dialah sang pemikir yang
kreatif.
berasal dari manakah hasil
pemikirannya itu ?? jika di
telusuri maka akan ditemukan
jawaban bahwa penemuannya
itu adalah hasil buah pikirnya
saat iya secara tidak sengaja
menjumpai suatu peristiwa yang
membimbingnya untuk befikir ke
arah itu,atau juga secara
kebetulan tiba-tibe ide itu
muncul didalam benaknya atau
bisa saja sebenarnya ide itu
hasil dari cerita atau hayalan
orang-orang disekitarnya yang
juga diadopsi dari cerita
leluhurnya dan terus hingga ke
nenek moyangnya.
sebenarnya pemikiran manusia
saat ini adalah hasil dari
pemikiran manusia masa lampau
dan hasil pemikiran manusia
lampau adalah hasil dari
pemikiran manusia-manusia yang
lebih dulu ada,dan pada
dasarnya jika di tarik hingga ke
atas maka akan di jumpai fakta
bahwa semua hasil pemikiran
manusia adalah hasil dari
pembelajaran dan perenungan
yang di ambil dari tanda-tanda
Alam.
saat manusia melihat terangnya
cahaya matahari namun tiba-
tiba menjadi gelap karena
cahaya rembulan tidak cukup
untuk menerangi rumah-rumeh
mereka maka timbullah
pemikiran untuk membuat
cahaya di malam hari,mulai dari
menggunakan api hingga thomas
alva edison menemukan
lampu.pada saat manusia melihat
burung membuat sarang,semut
membuat kontruksi rumahnya
dari tanah maupun
daun,beruang yang menjadikan
gua sebagai tempatnya
berteduh,dan lain sebagainya
barulah manusia mulai berfikir
untuk hidup menetap dan
bercocok tanam tidak lagi
berpindah-pindah tempat,hingga
dewasa ini lahirlah ilmu
arsitektur yang sangat indah
dan luar biasa.
saat manusia melihat bulu-bulu
domba yang indah timbullah
keinginan untuk
berpakaian,hingga lahirlah ilmu
designer yang menjadi tren
fashion dewasa ini.
saat melihat burung di angkasa
lahirnya keingina untuk
terbang,hingga wright
bersaudara mencetuskan ide
pembuatan pesawat terbang.
lahirnya ilmu-ilmu
psikologi,matematika,fisika,biol
ogi,sosiologi,kedokteran dan
semua ilmu-ilmu didunia ini
adalah hasil dari pemikiran
manusia yang diajarkan oleh
alam.
dan alam ini sudah pastinya di
ciptakan oleh sang maha
cerdas,sang maha
mengetahui,sang maha Pencipta
dari yang tidak ada menjadi
ada,yang maha memberi bentuk
dari yang tidak pernah
terbayangkan dan terfikirkan
hingga menjadi sumber ide,Dia
lah sang pemikir sang sudah
sepantasnya menjadi sumber
inspirasi kita.
janganlah hanya terfokus pada
pemikiran-pemikiran orang lain
dan dokma-dokma agama yang
kita dengar dari sumber yang
kurang jelas.cari tahulah tanda-
tandanya dari Alam dan
berpedomanlah pada hukum-
hukum yang sudah diciptakan
oleh sang Maha Mengetahui.
jangan fanatik dengan ideologi-
ideologi manusia jangan
langsung meng iyakan apa kata
para ahli agama tapi tanyakan
lah hati kita,jangan terlalu
terkontrol oleh akal kita.
diakhir artikel ini marilah kita
sama-sama merenungi ayat
Allah surah Al alaq 1-5 :
"bacalah dengan
(menyebut) nama tuhanmu
yang telah menciptakan,Dia
telah menciptakan manusia
dari segumpal
darah,bacalah,dan
tuhanmulah yang paling
pemurah,yang mengajar
(manusia) dengan
perantara kalam,dia
mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak
diketahuinya."
sumber :
http://perenungandanpencarian-aziz.blogspot.com/2010/05/sebuah-pemikiran-dari-hasil-pemikiran.html
Senin, 06 Desember 2010
KEBENARAN ILMIAH
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti.
Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut.
Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda.
Minggu, 14 November 2010
IBNU KHALDUN. BAPAK SOSIOLOGI ISLAM
Sosiologi Ibnu Khaldun atau August
Comte? Waktu pertama kali masuk
kuliah Sosiologi, kita dikenalkan
dengan sosok August Comte yang
disebut-sebut sebagai Founding
Fathernya Sosiologi lantaran
pemikirannya waktu Abad
pencerahan dengan mengemukakan
Teori 3 Fase Masyarakat: Teologi,
Metafisika dan Positivistik. Saat
itu, sebenarnya dosen telah
menyebutkan satu tokoh muslim
sebagai orang yang mengenalkan
Sosiologi jauh hari sebelum August
Comte lahir dialah Ibnu Khaldun.
Akan Tetapi, tokoh itu nggak
dibahas secara detail dan lengkap.
Jadilah pertanyaan hadir dalam
diriku, siapa sebenarnya Ibnu
Khladun? di buku-buku Sosiologi
memang disinggung sedikit
tentangnya. Akhirnya saya
mencoba mencari-cari di beberapa
sumber untuk meyakinkan saya
bahwa Ibnu Khaldunlah Bapak
Sosiologi. Dan ketemulah saya
dengan artikel dengan judul "Ibnu
Khaldun, Bapak Sosiologi Islam yang
ditulis oleh Mas Zaldy Munir yang
dapat dilihat langsung karya
orisinal beliau di link:
http://zaldym.wordpress.com/2008
/10/23/ibnu-khaldun-bapak-sosiologi-
islam/
Dengan artikel yang memuat
biografi Ibnu Khaldun ini kita dapat
mengatakan bahwa orang yang
pertama kali mengenalkan Sosiologi
adalah Ibnu Khaldun maka
pantaslah beliau yang disebut
sebagai Bapaknya Sosiologi.Hanya
saja waktu itu beliau tidak
mengenalkan istilah Sosiologi
meskipun secara teori dan
ajarannya sangatlah sosiologis. Dan
August Comte hanya penemu
istilah Sosiologi dan bukanlah orang
yang pertama melahirkan ilmu itu.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Tahap-tahap dalam melakukan analisa sosial
1. Menetapkan segmentasi
Pertama kali yang harus dilakukan adalah menentukan segmentasi atau objek yang akan dianalisis. Jelaslah bahwa segmen yang hendak dianalisis adalah segmen yang dinilai memiliki permasalahan dan hendak dicarikan solusinya.
2. Identifikasi masalah
Sebelum melakukan identifikasi masalah, kita harus mampu mendefinisikan terlebih dahulu apa itu masalah dan kacamata apa yang kita gunakan ketika kita menyebutkan itu adalah sebuah masalah atau bukan. Masalah adalah segala realita yang bertolak belakang dengan idealita. Sedangkan kacamata apa yang kita gunakan akan sangat menentukan apakah sebuah fenomena sosial dapat dianggap sebagai masalah atau bukan karena jika berbeda kacamata mungkin pula akan berbeda hasilnya. Sebagi contoh adalah fenomena sosial tempat prostitusi.
Selasa, 28 September 2010
Emosional spiritual sistem. Berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 Rukun Islam
dari dunia maya dan teknologi dan memeriksa elemen-elemen, komponen-komponen, serta
system yang membentuk diri kita secara keseluruhan serta mengkaji ulang hakekat tujuan kita
menjalani hidup di dunia ini.
Saya merasa bersyukur dan beruntung dan mendapat anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa,
telah menemukan buku ESQ Power , Oleh Ary Ginanjar Agustian, yang telah memberi inspirasi
pada saya untuk selalu berusaha berjalan di garis orbit fitrah manusia, dan selalu mengingat,
bersyukur pada Allah Sang Pencipta.
Rabu, 02 Juni 2010
Menjadi Jurnalis
Senin, 19 April 2010
Definisi Filsafat dan Filsafat Islam
Kata-kata filsafat diucapkan 'falsafah' dalam bahasa Arab, dan berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti 'cinta kepada pengetahuan', dan terdiri dari dua kata, yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan Sophia yang berarti pengetahuan (wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut "Philosophos" atau "Failasuf" dalam ucapan Arabnya. Mencintai pengetahuan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau dengan perkataan lain orang yang mengabdikan kepada pengetahuan.[1]
Dalam buku Filsafat Umum karangan Dr. Ahmad Tafsir, dikatakan bahwa Philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari atas Philo dan Sopiha; Philo berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu;
Sabtu, 10 April 2010
Teori al-Kindi Dalam Mempertemukan Filsafat dan Agama
Oleh: Agus Reza Ahmad Zahid, Lc
Perkataan filsafat pada asalnya mempunyai arti yang sederhana, sekedar pembedaan antara sifat manusia dengan sifat yang dimiliki oleh Tuhan berkenaan dengan kepandainnya. Manusia tidak dapat bersifat bijaksana, dia boleh menjadi penggemar kebijaksanaan, sedangkan Tuhan sajalah yang bersifat bijaksana. Akan tetapi lama-kelamaan perkataan itu digunakan untuk menunjukkan kepada satu aktifitas manusia yang berkenaan dengan pemahaman terhadap dunia secara kesuluruhan.
Filsafat merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang non empirik dan non eksprimental, diperoleh manusia melalui usaha dengan pikirannya yang mendalam. Mengenai objek materialnya tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan, yakni mengenai apa
Selasa, 23 Maret 2010
Filsafat Islam Dan Objeknya
1. Filsafat menurut bahasa
Kata-kata filsafat diucapkan 'falsafah' dalam bahasa Arab, dan berasal dari bahasa Yunani Philosophia yang berarti 'cinta kepada pengetahuan', dan terdiri dari dua kata, yaitu Philos yang berarti cinta (loving) dan Sophia yang berarti pengetahuan (wisdom, hikmah). Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut "Philosophos" atau "Failasuf" dalam ucapan Arabnya. Mencintai pengetahuan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau dengan perkataan lain orang yang mengabdikan kepada pengetahuan.[1]
Dalam buku Filsafat Umum karangan Dr. Ahmad Tafsir, dikatakan bahwa Philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari atas Philo dan Sopiha; Philo berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; Sophia artinya bijaksana yang artinya pandai, pengertian yang dalam. Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.[2] Dari berbagai sumber yang penulis baca semua filosof sepakat bahwa filsafat atau philosophia terdiri dari dua kata seperti yang telah penulis uraikan di atas. Dengan demikian pengertian filsafat menurut bahasa ialah cinta pengetahuan atau kebijaksanaan.
Perkataan "filsafat" memang berasal dari perkataan Yunani, yang digunakan oleh orang Arab dalam masa ke-emasan Islam, yang biasa dinamakan juga "zaman-terjemah", yaitu antara tahun 878 - 950 M. Seperti yang dikatakan oleh al-Farabi seorang filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina, bahwa perkataan "filsafat" itu berasal dari bahasa Yunani, ia masuk dan digunakan sebagai bahasa Arab. Perkataan asal ialah Philosophia, yang terdiri dari dua perkataan yaitu Philo yang berarti cinta dan Sophia yang berarti hikma atau kebenaran.[3]Plato menyebut Socrates sebagai seorang Philosophos (filosof) dalam pengertian seorang pencinta kebijaksanaan. Oleh karena itu kata falsafah merupakan hasil Arabisasi, suatu masdar yang berarti kerja atau pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam bahasa Belanda didapati perkataan " Wijsbegeerte". Wijs berarti cakap, pandai atau bijaksana. Begeerte adalah nama benda, atau pekerjaan. Begeren, mengandung arti "menghendaki sekali" atau "ingin sekali". Jadi "wijs begeerte" berarti "kemauan yang keras untuk mendapatkan kecakapan seseorang yang bijaksana", yang biasanya dinamakan "wijs" (orang yang bijaksana).[4]Menurut sejarah filsafat, istilah "philosophi" pertama kali digunakan dalam sekolah Socrates, kemudian Plato menanamkan suatu ilmu pengetahuan tentang kegiatan jiwa manusia.
Sebelum Socrates ada satu kelompok yang menyebut diri mereka Sophist (kaum sophis) yang berarti para cendekiawan. Mereka menjadikan persepsi manusia sebagai ukuran realitas (kebenaran, hakikat) dan menggunakan hujah-hujah yang keliru dalam kesimpulan-kesimpulan mereka. Secara bertahap kata "sophis" (sophis, sophistes) kehilangan arti aslinya dan kemudian menjadi berarti seseorang yang menggunakan hujah-hujah yang keliru. Dengan demikian, kita mempunyai kata sophistry ( cara berfikir yang menyesatkan), yang mempunyai asal kata sama dalam bahasa Arab dengan kata Fatsathah dengan arti yang sama.[5]Socrates karena kerendahan hati dan kemungkinan juga keinginan untuk menghindarkan pengidentifikasian dengan kaum sophis, melarang orang menyebut dirinya seorang sophis, seorang cendekiawan. Ia menyebut dirinya seorang filosof (philosophos), pencinta kebijaksanaan, pencinta kebenaran, menggantikan sophistes yang berarti sarjana dan gelar yang terakhir ini merosot derajatnya menjadi seorang yang menggunakan penalaran yang salah. Filsafat (philosophia) kemudian menjadi sama artinya dengan kebijaksanaan (kearifan).[6] Oleh sebab itu, philosophia ( filosof) sebagai satu istilah teknis tidak dipakaikan pada seorang segera setelahnya. Istilah philosophia juga tidak mempunyai arti yang definitif pada zaman itu; diceritakan bahwa Aristoteles sendiri tidak menggunakannya. Belakangan, penggunaan istilah philosophia (filsafat) dan philosophos (filosof) semakin meluas. Secara etimologi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, para ilmuwan dan filosof sepakat memberi arti yang sama tentang filsafat tersebut.
Selanjutnya kata filsafat yang banyak terpakai dalam bahasa Indonesia, menurut Prof. Dr. Harun Nasution bukan berasal dari kata Arab falsafah dan bukan pula dari bahasa Barat philosophy. Di sini dipertanyakan tentang apakah fil diambil dari bahasa Barat dan safah dari kata Arab, sehingga gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata filsafat ?[7]
2. Filsafat Menurut Istilah
Pengertian filsafat menurut istilah yang diberikan oleh beberapa ahli yang terkadang jauh lebih luas dibandingkan dengan arti menurut bahasa.
Plato (427 - 347 Seb. Masehi), filsuf Yunani yang termashur murid Socrates, menyatakan bahwa: Filsafat itu tidaklah lain daripada pengetahuan tentang segala yang ada.[8] Sementara Al Farabi ( wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina berkata: "Filsafat itu ialah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya".[9]
Sedangkan Thomas Hobbes (1588 - 1679 M), seorang filosof Inggris mengemukakan: "Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan perhubungan hasil dan sebab atau sebab dari hasilnya, dan oleh karena itu senantiasa adalah suatu perubahan".[10]
Dari definisi di atas dapat dilihat adanya perbedaan dalam mendefinisikan filsafat antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain.
Perbedaan definisi ini menurut Abu Bakar Atjeh disebabkan oleh berbedaan konotasi filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan hidup yang dianut mereka. Perbedaan itu juga dapat muncul karena perkembangan filsafat itu sendiri yang menyebabkan beberapa pengetahuan khusus memisahkan diri dari filsafat.[11]Di sini dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan definisi filsafat antara satu tokoh dengan tokoh lainnya disebabkan oleh perbedaan konotasi filsafat pada mereka masing-masing.
3. Definisi Filsafat Islam
Pembahasan mengenai hal tersebut ada masalah yang dihadapi yaitu apakah filsafat itu bercorak Islam atau bercorak Arab.
Ketika filsafat muncul dalam kehidupan Islam, kemudian berkembang sehingga banyak dibicarakan oleh orang-orang Arab, tampillah beberapa filosof seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina dan lain-lain, kaum sejarawan banyak menulis berbagai buku tentang kehidupan, pendapat serta pemikiran mereka. Para penulis buku itu menyebut mereka "kaum filosof Islam", ada pula yang menamakan "para filosof beragama Islam", kadang-kadang disebut juga dengan ungkapan "para hikmah Islam" (Falasifatul-Islam, atau Al-falasifatul Islamiyyin atau Hukuma'ul-Islam), mengikuti sebutan yang diberikan Syahrastani, Al-Qithi', Al-Baihaqi dan lain-lain. Oleh sebab itu Syaikh Musthafa 'Abdurrazaq mengatakan dalam bukunya yang berjudul Pengantar Sejarah Islam bahwa para ahli filsafat telah sepakat memberi nama demikian, karena pemberian nama lain tidak dibenarkan dan tidak boleh dikisrukan: "Maka kami berpendapat perlu menamakan filsafat itu dengan nama yang telah diberikan oleh ahli filsafat itu sendiri yaitu Filsafat Islam dengan arti bahwa filsafat tersebut lahir di negeri Islam dan berada di bawah pengayoman negara Islam".[12]
Seusai upacara pembukaan Universitas Mesir, seorang ahli masalah ketimuran (Orientalis) Prof. Nellinuo memberikan ceramah tentang sejarah Ilmu Falak (Astronomi) di kalangan orang Arab. Dalam kesempatan itu ia menampilkan tentang penamaan tersebut dan mengupas beberapa tesis yang dibicarakan para ahli filsafat Islam dari kedua belah pihak (yaitu yang memberi nama Filsafat Islam dan yang memberi nama Filsafat Arab). Antara lain ia mengatakan sebagai berikut: "Setiap pembicaraan mengenai masa jahiliyah, atau masa awal kelahiran Islam, makna sesungguhnya dan yang wajar dari kata-kata "Arab" tidak diragukan lagi menunjuk pada suatu bangsa yang bermukim di daerah Semenanjung yang dikenal dengan nama 'Jazirah Arabiah'. Akan tetapi, jika pembicaraan itu beralih ke abad-abad berikutnya mulai abad pertama Hijriyah kata "Arab" berubah menjadi suatu istilah yang maknanya ialah segala bangsa dan rakyat yang bermukim di seluruh wilayah kerajaan Islam, yang pada umumnya menggunakan Bahasa Arab dalam menulis buku-buku ilmiah. Dengan demikian istilah "Arab" mencakup orang Persia, India, Turki, Suriah, Mesir, Barbar (Barbar = penduduk Afrika Utara) Andalusia dan lain-lain. Yaitu orang dari berbagai kebangsaan yang menulis buku-buku ilmiah dalam bahasa Arab, Jika tidak menyebut mereka dengan "Arab", sukar sekali untuk berbicara tentang Ilmu Falak, karena sangat sedikit putera Qathan dan 'Adnan)[13]yang memiliki kecerdasan berpikir.[14] Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa Nellinou menitikberatkan pendapatnya pada bahasa. Karena itu ia mengatakan ilmu tersebut (filsafat) oleh orang-orang Arab diartikan ilmu yang ditulis dalam bahasa Arab.
Courban, seorang orientalis Perancis ahli tentang Islam dan Iran mempertahankan istilah Filsafat Islam. Ia mengatakan :
"Jika kita berpegang pada penamaan Filsafat Arab, maka pemikiran itu menjadi sempit bahkan keliru. Bagaimana kita bisa menempatkan pemikiran Nashir Khasru, misalnya atau pemikiran Afdhul Kasyani dan para ahli pikir Persia (Islam) lainnya yang hidup pada abad ke-11 hingga abad ke-13, mereka tidak menuliskan pemikirannya kecuali dalam bahasa Persia. Jika sebutan ' Arab ' dalam zaman kita dewasa ini mencakup pengertian politik dan kebangsaan dapat dibenarkan, pengertian itu tidak bisa membawa kita ke pangkalan ilmu atau sastra. Lagipula saya sendiri menolak mengkaitkan pengertian keagamaan dengan tanah air atau kebangsaan tertentu. Karena itu istilah yang paling tepat dan benar ialah Filsafat Dalam Islam atau Filsafat Islam atau Filsafat di Negeri-Negeri Islam, kalau penamaan yang terakhir disebutkan terasa terlampau panjang dan dianggap kurang baik untuk dijadikan istilah, saya tetap menolak memberikan predikat ' muslimah ' (musulman) pada filsafat tersebut. Sebab penamaan itu masih tetap mencakup keyakinan pribadi filosof yang bersangkutan, sedang filsafat islam mencakup segala hal-akhwal".[15]
Demikian juga pendapat Dr. Ibrahim Madzakur dengan pernyataan bahwa penamaan filsafat Arab tidak berarti pemikiran filsafat itu hasil karya suatu ras atau suatu bangsa. Saya lebih suka menyebut Filsafat Islam, karena Islam bukan hanya aqidah atau keyakinan semata-mata melainkan juga peradaban dan sikap peradaban mencakup segi-segi kehidupan moral, material, pemikiran dan perasaan. Jadi Filsafat Islam ialah segala studi filsafat yang dilukis di dalam dunia Islam, baik penulisnya orang Muslim, Nasrani ataupun Yahudi.[16]
Sebenarnya perbedaan istilah tersebut hanya perbedaan nama saja, sebab bagaimana pun hidup dan suburnya pemikiran tersebut (filsafat) adalah di bawah naungan Islam dan kebanyakan karyanya ditulis dalam bahasa Arab. Kalau yang dimaksud dengan ' Filsafat Arab ' ialah bahwa filsafat tersebut adalah hasil umat Arab semata-mata tidak benar, sebab kenyataan menunjukan bahwa Islam telah mempersatukan berbagai umat dan kesemuanya telah ikut serta dalam memberikan sumbangannya dalam filsafat tersebut. Sedangkan kalau yang dimaksud dengan Filsafat Islam ialah bahwa tersebut adalah hasil pemikiran kaum Muslimin semata-mata juga berlawanan dengan sejarah, karena mereka pertama-tama berguru pada aliran Nestorius dan Jacobitas dari golongan Masehi, Yahudi dan penganut agama Sabi'ah, dan kegiatan mereka dalam berilmu dan berfilsafat selalu berhubungan dengan orang-orang Masehi dan Yahudi yang ada pada masanya.
Namun pemikiran-pemikiran filsafat pada kaum Muslimin lebih tepat disebut 'Filsafat Islam', pengingat bahwa Islam bukan saja sekedar agama, tetapi juga kebudayaan. Pemikiran filsafat sudah barang tentu terpengaruh oleh kebudayaan Islam tersebut, meskipun pemikiran tersebut adalah Islam baik tentang problema-problemanya, motif pembinaannya maupun tujuannya, karena Islam telah memadu dan menampung aneka kebudayaan serta pemikiran dalam satu kesatuan. Dan dalam pemakaian istilah ' Filsafat Islam ' lebih banyak dipahami dalam buku-buku filsafat, seperti an-Najat dan as-Syifa dari Ibn Sina, dalam buku al-Milal wan-Nihal dari as-Syihrisaani, dalam buku Akhbar al-Hukuma dari al-Qafi dan Muqqadimah Ibni Khaldun.[17]
Dengan demikian disimpulkan bahwa filsafat yang muncul dalam kehidupan Islam yang banyak dibicarakan oleh orang-orang Arab adalah Filsafat Islam, karena kegiatan pemikirannya bercorak Islam. Islam disini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran. Filsafat disebut Islami bukan karena yang melakukan aktivitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam, atau orang yang berkebangsaan Arab atau dari segi objeknya yang membahas mengenai pokok-pokok keislaman.
Hakekat Filsafat Islam ialah aqal dan al-Quran. Filsafat Islam tidak mungkin tanpa aqal dan al-Quran. Aqal yang memungkinkan aktivitas itu menjadi aktivitas kefilsafatan dan al-Quran juga menjadi ciri keislamannya. Tidak dapat ditinggalkannya al-Quran dalam filsafat Islam adalah lebih bersifat spiritual, sehingga al-Quran tidak membatasi aqal bekerja, aqal tetap bekerja dengan otonomi penuh.[18]
Aqal dan al-Quran di sini tidak dapat dipahami secara struktural, karena jika aqal dan al-Quran dipahami secara struktural yang menyiratkan adanya hubungan atas bawah yang bersifat subordinatif dan reduktif, maka antara satu dengan lainnya menjadi saling mengatas-bawahi, baik aqal mengatasi al-Quran atau sebaliknya al-Quran mengatasi aqal. Jika al-Quran mengatasi aqal maka aqal menjadi kehilangan peran sebagai subjek filsafat yang menuntut otonomi penuh. Sebaliknya jika aqal mengatasi al-Quran, terbayang di sana bahwa aktivitas kefilsafatan Islam menjadi sempit karena objeknya hanya al-Quran. Oleh karena itu, Filsafat Islam adalah aqal dan al-Quran dalam hubungan yang bersifat dialektis. Aqal dengan otonomi penuh bekerja dengan semangat Quranik. Aqal sebagai subjek, dan sebagai subjek ia mempunyai komitmen, komitmen itu adalah wawasan moralitas yang bersumber pada al-Quran. Aqal sebagai subjek berfungsi untuk memecahkan masalah, sedangkan al-Quran memberikan wawasan moralitas atas pemecahan masalah yang diambil oleh aqal. Hubungan dialektika aqal dan al-Quran bersifat fungsional.[19]
Jadi jelaslah apa yang dikatakan al-Akhwani dalam bukunya Filsafat Islam bahwa Filsafat Islam adalah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.[20]
B. Objek Filsafat
Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan, objek yang dipikirkan oleh filsafat ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi luas sekali.
"Objek filsafat itu bukan main luasnya", tulis Louis Katt Soff, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia.[21] Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal yang aktif, maka manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menurut akal pikirannya. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya.
Objek filsafat ada dua yaitu Objek Materia dan Objek Forma, tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Sains memiliki objek materia yang empiris; filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak.[22] Sedang objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).[23]
Dari uraian tertera di atas jelaslah, bahwa:
1. Objek materia filsafat ialah Sarwa-yang-ada, yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok:
a. Hakekat Tuhan;
b. Hakekat Alam dan
c. Hakekat Manusia.
2. Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada).[24]
Dalam buku Filsafat Agama; Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. H. Hamzah Ya'qub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah:
1. Ada Umum yakni menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya. Dalam bahasa Eropa, ADA UMUM ini disebut "Ontologia" yang berasal dari perkataan Yunani "Onontos" yang berarti "ada", dalam Bahasa Arab sering menggunakan Untulujia dan Ilmu Kainat.
2. Ada Mutlak, sesuatu yang ada secara mutlak yakni zat yang wajib adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan ia harus terus menerus ada, karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu. Ini disebut orang "Tuhan" dalam Bahasa Yunani disebut "Theodicea" dan dalam Bahasa Arab disebut "Ilah" atau "Allah".
3. Comologia, yaitu filsafat yang mencari hakekat alam dipelajari apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak. Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak, alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah. "Ada tidak mutlak", mungkin "ada" dan mungkin "lenyep sewaktu-waktu" pada suatu masa.
4. Antropologia (Filsafat Manusia), karena manusia termasuk "ada yang tidak mutlak" maka juga menjadi objek pembahasan. Apakah manusia itu sebenarnya, apakah kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya? Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropologia.
5. Etika: filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Betapakah tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk.
6. Logika: filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Akal budi adalah akal yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika, maka semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. Tegasnya tanpa akal budi takkan ada penyelidikan. Oleh karena itu dipersoalkan adakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran? Dengan segera timbul pula soal, apakah kebenaran itu dan sampai dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Maka penyelidikan tentang akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika.
Penyelidikan tentang bahan dan aturan berpikir disebut logica minor, adapun yang menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. Filsafat akal budi ini disebut Epistimologi dan adapula yang menyebut Critica, sebab akal yang menyelidiki akal.[25]
Adapun objek Filsafat Islam ialah objek kajian filsafat pada umumnya yaitu realitas, baik yang material maupun yang ghaib. Perbedaannya terletak pada subjek yang mempunyai komitmen Qur'anik.[26]
Dalam hubungan ini objek kajian Filsafat Islam dalam tema besar adalah Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan. Tema besar itu hendaknya dapat dijabarkan lebih spesifik sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga dapat ditarik benang merah dari perkembangan sejarah pemikiran kefilsafatan yang hingga sekarang. Setiap zaman mempunyai semangatnya sendiri-sendiri.
Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa objek filsafat itu sama dengan objek ilmu pengetahuan bila ditinjau secara materia dan berbeda bila secara forma. Sedangkan objek kajian Filsafat Islam itu sendiri mencakup Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan.
[1] A. Hanafi, MA., Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1990), Cet. ke-5, h. 3
[2] Dr. Ahmad Tafsir. Filsafat Umum; Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai James, (Bandung, PT. Remaja Rosda Jarya, 1990), cet. ke-1, h. 8
[3] Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh, Sejarah Filsafat Islam, (Semarang, Ramadhani, 1982), cet. ke-2, h. 3
[4] Dr. H. Hamzah Ya'qub, Filsafat Agama: Titik Temu Akal Dengan Wahyu, (Jakarta, Pedoman ilmu Jaya, 1992), cet. ke-1, h. 3
[5] Ibid, h. 12
[6] Ibid
[7] Prof. Dr. Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta, Bulan Bintang, 1987), cet. Ke-6, h. 3
[8] H. Endang Saifuddin Anshari, MA., Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya, Bina Ilmu, 1991), cet. Ke-9, h. 82-83
[9] Ibid
[10] Dr. Hamzah Ya'qub, Op. Cit, h. 4
[11] Dr. Ahmad Tafsir, op. cit., h. 9
[12] Ahmad Fu'ad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1988), cet. ke-2, h. 6
[13] Dua kabilahim Madzakur dengan pernyataan bahwa penamaan filsafat Arab tidak berarti pemikiran filsafat itu hasil karya suatu ras atau suatu bangsa. Saya lebih suka menyebut Filsafat Islam, karena Islam bukan hanya aqidah atau keyakinan semata-mata melainkan juga peradaban dan sikap peradaban mencakup segi-segi kehidupan moral, material, pemikiran dan perasaan. Jadi Filsafat Islam ialah segala studi filsafat yang dilukis di dalam dunia Islam, baik penulisnya orang Muslim, Nasrani ataupun Yahudi.[16]
Sebenarnya perbedaan istilah tersebut hanya perbedaan nama saja, sebab bagaimana pun hidup dan suburnya pemikiran tersebut (filsafat) adalah di bawah naungan Islam dan kebanyakan karyanya ditulis dalam bahasa Arab. Kalau yang dimaksud dengan ' Filsafat Arab ' ialah bahwa filsafat tersebut adalah hasil umat Arab semata-mata tidak benar, sebab kenyataan menunjukan bahwa Islam telah mempersatukan berbagai umat dan kesemuanya telah ikut serta dalam memberikan sumbangannya dalam filsafat tersebut. Sedangkan kalau yang dimaksud dengan Filsafat Islam ialah bahwa tersebut adalah hasil pemikiran kaum Muslimin semata-mata juga berlawanan dengan sejarah, karena mereka pertama-tama berguru pada aliran Nestorius dan Jacobitas dari golongan Masehi, Yahudi dan penganut agama Sabi'ah, dan kegiatan mereka dalam berilmu dan berfilsafat selalu berhubungan dengan orang-orang Masehi dan Yahudi yang ada pada masanya.
Namun pemikiran-pemikiran filsafat pada kaum Muslimin lebih tepat disebut 'Filsafat Islam', pengingat bahwa Islam bukan saja sekedar agama, tetapi juga kebudayaan. Pemikiran filsafat sudah barang tentu terpengaruh oleh kebudayaan Islam tersebut, meskipun pemikiran tersebut adalah Islam baik tentang problema-problemanya, motif pembinaannya maupun tujuannya, karena Islam telah memadu dan menampung aneka kebudayaan serta pemikiran dalam satu kesatuan. Dan dalam pemakaian istilah ' Filsafat Islam ' lebih banyak dipahami dalam buku-buku filsafat, seperti an-Najat dan as-Syifa dari Ibn Sina, dalam buku al-Milal wan-Nihal dari as-Syihrisaani, dalam buku Akhbar al-Hukuma dari al-Qafi dan Muqqadimah Ibni Khaldun.[17]
Dengan demikian disimpulkan bahwa filsafat yang muncul dalam kehidupan Islam yang banyak dibicarakan oleh orang-orang Arab adalah Filsafat Islam, karena kegiatan pemikirannya bercorak Islam. Islam disini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran. Filsafat disebut Islami bukan karena yang melakukan aktivitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam, atau orang yang berkebangsaan Arab atau dari segi objeknya yang membahas mengenai pokok-pokok keislaman.
Hakekat Filsafat Islam ialah aqal dan al-Quran. Filsafat Islam tidak mungkin tanpa aqal dan al-Quran. Aqal yang memungkinkan aktivitas itu menjadi aktivitas kefilsafatan dan al-Quran juga menjadi ciri keislamannya. Tidak dapat ditinggalkannya al-Quran dalam filsafat Islam adalah lebih bersifat spiritual, sehingga al-Quran tidak membatasi aqal bekerja, aqal tetap bekerja dengan otonomi penuh.[18]
Aqal dan al-Quran di sini tidak dapat dipahami secara struktural, karena jika aqal dan al-Quran dipahami secara struktural yang menyiratkan adanya hubungan atas bawah yang bersifat subordinatif dan reduktif, maka antara satu dengan lainnya menjadi saling mengatas-bawahi, baik aqal mengatasi al-Quran atau sebaliknya al-Quran mengatasi aqal. Jika al-Quran mengatasi aqal maka aqal menjadi kehilangan peran sebagai subjek filsafat yang menuntut otonomi penuh. Sebaliknya jika aqal mengatasi al-Quran, terbayang di sana bahwa aktivitas kefilsafatan Islam menjadi sempit karena objeknya hanya al-Quran. Oleh karena itu, Filsafat Islam adalah aqal dan al-Quran dalam hubungan yang bersifat dialektis. Aqal dengan otonomi penuh bekerja dengan semangat Quranik. Aqal sebagai subjek, dan sebagai subjek ia mempunyai komitmen, komitmen itu adalah wawasan moralitas yang bersumber pada al-Quran. Aqal sebagai subjek berfungsi untuk memecahkan masalah, sedangkan al-Quran memberikan wawasan moralitas atas pemecahan masalah yang diambil oleh aqal. Hubungan dialektika aqal dan al-Quran bersifat fungsional.[19]
Jadi jelaslah apa yang dikatakan al-Akhwani dalam bukunya Filsafat Islam bahwa Filsafat Islam adalah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.[20]
B. Objek Filsafat
Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan, objek yang dipikirkan oleh filsafat ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Jadi luas sekali.
"Objek filsafat itu bukan main luasnya", tulis Louis Katt Soff, yaitu meliputi segala pengetahuan manusia serta segala sesuatu yang ingin diketahui manusia.[21] Oleh karena itu manusia memiliki pikiran atau akal yang aktif, maka manusia sesuai dengan tabiatnya, cenderung untuk mengetahui segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menurut akal pikirannya. Jadi objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya.
Objek filsafat ada dua yaitu Objek Materia dan Objek Forma, tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Sains memiliki objek materia yang empiris; filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris melainkan bagian yang abstrak.[22] Sedang objek forma filsafat tiada lain ialah mencari keterangan yang sedalam-dalamnya tentang objek materi filsafat (yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada).[23]
Dari uraian tertera di atas jelaslah, bahwa:
1. Objek materia filsafat ialah Sarwa-yang-ada, yang pada garis besarnya dapat dibagi atas tiga persoalan pokok:
a. Hakekat Tuhan;
b. Hakekat Alam dan
c. Hakekat Manusia.
2. Objek forma filsafat ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya sampai ke akarnya) tentang objek materi filsafat (sarwa-yang-ada).[24]
Dalam buku Filsafat Agama; Titik Temu Akal dengan Wahyu karangan Dr. H. Hamzah Ya'qub dikatakan bahwa objek filsafat ialah mencari keterangan sedalam-dalamnya. Di sinilah diketahui bahwa sesuatu yang ada atau yang berwujud inilah yang menjadi penyelidikan dan menjadi pembagian filsafat menurut objeknya ialah:
1. Ada Umum yakni menyelidiki apa yang ditinjau secara umum. Dalam realitanya terdapat bermacam-macam yang kesemuanya mungkin adanya. Dalam bahasa Eropa, ADA UMUM ini disebut "Ontologia" yang berasal dari perkataan Yunani "Onontos" yang berarti "ada", dalam Bahasa Arab sering menggunakan Untulujia dan Ilmu Kainat.
2. Ada Mutlak, sesuatu yang ada secara mutlak yakni zat yang wajib adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapapun juga. Adanya tidak berpermulaan dan tidak berpenghabisan ia harus terus menerus ada, karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu. Ini disebut orang "Tuhan" dalam Bahasa Yunani disebut "Theodicea" dan dalam Bahasa Arab disebut "Ilah" atau "Allah".
3. Comologia, yaitu filsafat yang mencari hakekat alam dipelajari apakah sebenarnya alam dan bagaimanakah hubungannya dengan Ada Mutlak. Cosmologia ini ialah filsafat alam yang menerangkan bahwa adanya alam adalah tidak mutlak, alam dan isinya adanya itu karena dimungkinkan Allah. "Ada tidak mutlak", mungkin "ada" dan mungkin "lenyep sewaktu-waktu" pada suatu masa.
4. Antropologia (Filsafat Manusia), karena manusia termasuk "ada yang tidak mutlak" maka juga menjadi objek pembahasan. Apakah manusia itu sebenarnya, apakah kemampuan-kemampuannya dan apakah pendorong tindakannya? Semua ini diselidiki dan dibahas dalam Antropologia.
5. Etika: filsafat yang menyelidiki tingkah laku manusia. Betapakah tingkah laku manusia yang dipandang baik dan buruk serta tingkah laku manusia mana yang membedakannya dengan lain-lain makhluk.
6. Logika: filsafat akal budi dan biasanya juga disebut mantiq. Akal budi adalah akal yang terpenting dalam penyelidikan manusia untuk mengetahui kebenaran. Tanpa kepastian tentang logika, maka semua penyelidikan tidak mempunyai kekuatan dasar. Tegasnya tanpa akal budi takkan ada penyelidikan. Oleh karena itu dipersoalkan adakah manusia mempunyai akal budi dan dapatkah akal budi itu mencari kebenaran? Dengan segera timbul pula soal, apakah kebenaran itu dan sampai dimanakah kebenaran dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Maka penyelidikan tentang akal budi itu disebut Filsafat Akal Budi atau Logika.
Penyelidikan tentang bahan dan aturan berpikir disebut logica minor, adapun yang menyelidiki isi berpikir disebut logica mayor. Filsafat akal budi ini disebut Epistimologi dan adapula yang menyebut Critica, sebab akal yang menyelidiki akal.[25]
Adapun objek Filsafat Islam ialah objek kajian filsafat pada umumnya yaitu realitas, baik yang material maupun yang ghaib. Perbedaannya terletak pada subjek yang mempunyai komitmen Qur'anik.[26]
Dalam hubungan ini objek kajian Filsafat Islam dalam tema besar adalah Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan. Tema besar itu hendaknya dapat dijabarkan lebih spesifik sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga dapat ditarik benang merah dari perkembangan sejarah pemikiran kefilsafatan yang hingga sekarang. Setiap zaman mempunyai semangatnya sendiri-sendiri.
Dari keterangan di atas dapat dikatakan bahwa objek filsafat itu sama dengan objek ilmu pengetahuan bila ditinjau secara materia dan berbeda bila secara forma. Sedangkan objek kajian Filsafat Islam itu sendiri mencakup Tuhan, alam, manusia dan kebudayaan.
[1] A. Hanafi, MA., Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1990), Cet. ke-5, h. 3
[2] Dr. Ahmad Tafsir. Filsafat Umum; Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai James, (Bandung, PT. Remaja Rosda Jarya, 1990), cet. ke-1, h. 8
[3] Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh, Sejarah Filsafat Islam, (Semarang, Ramadhani, 1982), cet. ke-2, h. 3
[4] Dr. H. Hamzah Ya'qub, Filsafat Agama: Titik Temu Akal Dengan Wahyu, (Jakarta, Pedoman ilmu Jaya, 1992), cet. ke-1, h. 3
[5] Ibid, h. 12
[6] Ibid
[7] Prof. Dr. Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta, Bulan Bintang, 1987), cet. Ke-6, h. 3
[8] H. Endang Saifuddin Anshari, MA., Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya, Bina Ilmu, 1991), cet. Ke-9, h. 82-83
[9] Ibid
[10] Dr. Hamzah Ya'qub, Op. Cit, h. 4
[11] Dr. Ahmad Tafsir, op. cit., h. 9
[12] Ahmad Fu'ad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1988), cet. ke-2, h. 6
[13] Dua kabilah tertua di Semenanjung Arabia yang secara umum dapat dipandang sebagai cikal bakal Bangsa Arab.
[14] Ahmad Fu'ad Al-Ahwani, op. cit., h. 6-7
[15] Ibid, h. 9-10
[16] Ibid, h. 11[17] A. Hanafi, MA, op. cit., h. 11
[18] Dr. H. Musa Asy-Arie, et. Al., Filsafat Islam; Kajian Ontologis, Epistimologis, Aksiologis, Historis, Perspektif, (Yogyakarta, Lembaga studi Filsafat Islam, 1992), cet. ke-1, h. 15
[19] Ibid, h. 16
[20] Ahmad Fu'ad Al-Ahwani, op. cit., h. 5
[21] H. Endang saefuddin Anshori, MA., op. cit., h. 84
[22]Dr. Ahmad Tafsir, op. cit, h. 18-19
[23] H. Endang Saefuddin Anshari, MA, op. cit, h. 87
[24] Ibid, h. 87-88
[25] Dr. H. Hamzah Ya'qub, op. cit., h. 7-8
[26] Dr. H. Musa Asy-Arie, et. Al., op. cit., h.
Ditulis oleh ridwan202
Kategori: Uncategorized
Tag: antropologi, Etika, Filsafat, Filsafat Islam, Logika, Objek Filsafat
di sunting dari berbagai site di internet
Sejarah Munculnya Ilmu Ushul Fiqh
Menangkap Kembali Dinamika Islam Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai
Dalam peralihan abad Hijri yang sering dikumandangkan sebagai Abad Kebangkitan Islam sekarang ini, dan sudah pula dimulai sejak menjelang akhir abad yang lalu, kaum Muslim di seluruh dunia didorong oleh proses sejarahnya sendiri untuk mencoba mempertegas peranannya dalam sejarah umat manusia. Gejala-gejala terakhir seperti keputusan Ziya ul-Haqq untuk menetapkan Syari'ah Islam sebagai hukum Pakistan, juga perkembangan di Bangladesh yang menghendaki hal yang kurang lebih serupa (juga di Mesir, Sudan, dan lain-lain) --jika bukan
Perkembangan Pemikiran Modern Dalam Islam
Islam merupakan totalitas sistem
nilai, baik nilai keagamaan, nilai
kemanusiaan maupun konsep dasar
ontologis dan epistemologi ilmu
pengetahuan. Secara normatif,
terma Islam digunakan dalam dua
pengertian, yaitu Islam dalam
persfektif socio-historis dan
Islam dalam persfektif nilai
perennial. Secara socio-historis,
Islam merupakan identitas dari
sebuah keyakinan yang secara
formal dan terorganisasi menjadi
sebuah nama agama (the name of
religion) dengan karakteristik
sebagai berikut; Nabi Muhammad
SAW. sebagai nabi dan rasul yang
membawa risalah tersebut.
Kemudian al-Quran sebagai sumber
primer ajaran, Hadits dan Sunnah
Nabi Muhammad SAW sebagai
sumber sekunder referensi hukum
dan nilai-nilai ideal. Adapun yang
dimaksud dengan Islam dalam
pengertian nilai perennial (ruang
esoteris), ialah Islam sebagaimana
yang dinyatakan dalam al qur'an
sebagaimana yang diafirmasi dan
diwariskan oleh para nabi dan
rasul untuk dijaga dan diwariskan
kepada sernua ummat manusia.
Ibrahim mendeklarasikan
keberislamannya secara ekplisit
kepada Allah SWT (QS.2:114),
kemudian Ia (Ibrahim) dan para
nabi lainnya berpesan kepada
keturunannya untuk tetap
berislam, karena Allah telah
memilih Islam sebagai system nilai
yang mesti dipegang teguh, sehingga
jangan pernah mati kecuali dalam
rangkulan nilai tersebut. Jadi yang
dimaksud dengan Islam sebagai
sistem nilai perennial yaitu nilai-
nilai universal dari konsep Islam
itu sendiri, yang melampau sekat-
sekat formalitas agama, sejarah,
waktu, suku bangsa dan sebagainya.
Islam secara socio-historis paling
tidak dapat diidentifikasi melalui
tiga sub sistem yaitu, sistem
kredo, sistem ritual dan sistem
normatif. Atau kategori yang lebih
detail seperti yang dikemukakan
oleh Ninian Smart.1 Ia menganalisis
kandungan agama dalam persfektif
pandangan dunia. Ia menilai bahwa
agema merupakan sebuah
pandangan dunia (world view).
Ninian Smart menjabarkan aspek
agama ini ke dalam 6 bagian atau
kategori yaitu; dimensi doktrinal
(atau filosofis), naratif (atau
mistis), dimensi etis (atau legal),
dimensi praktis (atau ritual),
dimensi eksperiensial (atau
emosional) dan dimensi social (atau
organisasional). Meskipun rincian
Smart lebih detail, namun secara
substansial ia berkisar pada tiga
ranah utama, yaitu ranah esoteris
(dimensi filosofis dan mistis),
ranah legal formal (dimensi etis
dan praktis) dan ranah
internalisasi dan eksternalisasi
(dimensi eksperimental dan social)
dalam kontek historical-empirik.
Dimana, kedua ranah terakhir
dapat dikategorikan pada ruang
eksoteris dalam manifestasi agama.
Sistem kredo berkenaan dengan
kepercayaan (faithfull) kepada
eksistensi Tuhan, Alam dan Makluk
Ghaib (supra natural) dan hari
pernbalasan. Sebagian
menambahkan dengan kepercayaan
kepada qadha dan qadr, sebagai
manifestasi sikap keirnanan.
Sistern ritual terkait dengan
prilaku dan tindak tanduk yang
bermuatan ibadah, baik dimensinya
vertikal maupun horizontal.
Sedangkan system normatif
berkenaan dengan relasi sikap dan
prilaku yang terpuji antar sesama
makhluk dan termasuk kepada
Tuhan, atau lazim dikenal dengan
istilah system akhlaqi.
Kategori-kategori tersebut di atas
memungkinkan kita melihat agama
itu sebagai layaknya sebuah
system organis, yang dapat
dianalisa, dipelajari dan dilihat
hubungan antara satu bagian
dengan bagian lainnya. Disamping
itu, kategori ini memungkinkan kita
melakukan telaah atau analisa
secara lebih spesifik dari system
organis pranata agama. Dalam
kontek ini pula, para pengkaji
agarna dapat mengkaji agama pada
ranah tertentu, sehingga terhindar
dari upaya perarnpakan atau
percampur bauran antara ranah-
ranah beragarna. Dialektika
theologies antara ia dan anak-
anaknya, "Siapa yang kemudian
akan disembah oleh anak
keturunannya setelah ia mangkat.
Para anak keturunannya (dan juga
beberapa sahabat dan pengikutnya)
menyatakan bahwa, mereka akan
mengabdikan diri kepada Tuhannya
Ya'qub dan nabi-nabi yang
mendahului mereka (Ibrahim,
Ismail, Ishaq), yaitu Tuhan yang
tidak berbilang. Dan mereka
bersaksi bahwa, mereka akan
memilih Islam sebagai jalan
hidup.(Qs.2:)
Dalam kaitannya dengan pengertian
ini pula, ada contoh lain, dimana
universalitas nilai Islam juga
dipraktekkan oleh para nabi
sebelum Nabi Muhammad SAW.
Secara puitis, ini dinarasikan Allah
dalam QS. (.....:), yaitu ketika Nabi
Isa AS berada pada keadaan yang
sangat susah, ia bertanya kepada
para pengikutnya (yang dikenal
dengan Hawariyun) tentang
kornitmen dan loyalitas mereka
mendampingi beliau. Satu statemen
teologis yang diceritakan dalam al-
Quran menyatakan bahwa, para
sahabat Isa as menyatakan
keIslam-an mereka serta loyalitas
mereka kepada perjuangan Isa as.
Islam dalam pengertian kedua ini,
menjadi prinsip-prinsip nilai
perennial (abadi) dari semangat
dasar atau ilan vital risal kenabian
dan kerasulan (termasuk
eksistensi sebuah agama). Dalam
kontek ini, maka sukar sekali
dibantah, bahwa Islam adalah satu
system nilai yang berlaku
mengalarn (to universe / to
nature), tidak dapat dipisah dari
keberadaan manusiaan atau
menyatu (embedded values) serta
menjadi watak dari ciptaan
(nature of created). Nilai-nilai ini
sesungguhnya yang menjangkau dan
menyentuh sernua perbedaan, dan
diakui atau tidak semangat ini
yang menjadi penguat bagi daya
bertahan (energy of survival)
sebuah agama. Kita tidak dapat
membayangkan kalau agama ini
hanya sebatas realitas sosio-
historis, yang sifatnya sangat
kontektual dan terinstitusi secara
formal, mungkin agama sudah lama
lengkang dari permukaan bumi.
Namun demikian, nilai-nilai ini
seringkali terkebiri dalam realitas
kehidupan beragama. Nilai-nilai ini
terkubur di dalam lapisan paling
dasar sedimentasi formalisasi
system keagamaan.
Katup perkembangan pemikiran
dalam Islam pada ghalibnya
bergerak diantara dua pendulum
tersebut, baik dalam gerakan
sublimasi yang halus maupun dalam
posisi yang diperhadapkan secara
diametral. Sebagian kalangan
terjebak dalam ritus formalisasi
system nilai keagamaan, sehingga
bergelut dalam rutinitas socio-
normatif keagamaan. Sedangkan
yang lain, sibuk dengan eksplorasi
substansial yang menyangga daya
lentur dan fleksibelitas nilai-nilai
sebuah agama. Meskipun
internalisasi dan eksternalisasi dari
dua pengalaman tersebut tidak
otomatis hanya melahirkan dua
mainstream pemikiran dan sikap
keberagamaan tersebut. Akan
tetapi ini paling tidak memadai
menjadi dasar pijak untuk
menggambarkan dasar ontologis
dari pola atau model beragama
kemudian.
Idealnya memang keduanya
berjalan seiring dan terhubung
secara resiprokal, sehingga satu
sama lain saling belajar dan saling
mengisi. Namun dalam prakteknya,
tidak jarang keduanya
diperhadapkan secara diametral.
Hal itu tampak dalam penyusunan
disiplin keilmuan dalam studi-studi
keislaman, seperti epistemologi
bayani, burhani dan irfani.
Manifestasi dari akrobasi
pemikiran tersebut menjadi cikal
bakal model interpretasi terhadap
teks keagamaan, yang pada
akhirnya menimbulkan efek domino
terhadap model-model beragama
(modes of religions) dan model
rancang bangun Islamic studies di
institusi-institusi formal pendidikan
(baik pendidikan berbasis
keagamaan maupun pendidikan
umum).
Untuk yang terakhir ini, terbukti
telah menjadi salah satu tema
perdebatan yang menarik beberapa
tahun terakhir ini di Perguruan
Tinggi Agama Islam (PTAI) di
Indonesia. Salah satunya, polemik
tentang kerangka epistemology
kontruksi keilmuan di PTAI dan
perubahan dari IAIN menjadi UIN
dlsb. Namun, problem yang muncul
kemudian, idealitas dalam kontek
wacana tidak selalu bergerak
sejajar dengan praktek di
lapangan. Rancang bangunan
keilmuan Islam tidak jarang
berlaku terpenggal-penggal
(fragmented) dan saling terasing
(alienatif) antara satu sama lain.
Ini yang diistilah oleh Amin Abdullah
dengan model dikotornis-atomistik,
yaitu model epistemology keilmuan
yang bersifat terkotak kotak
dalam dinding yang bersifat rigit
dan alienatif. Dan bahkan tidak
jarang diposisikan secara berhadap-
hadapan dalam posisi biner.
Syukur kemudian ini cepat disadari
oleh para kaum cerdik pandai
Islam, sehingga ada kehendak
untuk kembali merekontruksi
epistemologis studi-studi
keislaman, dalam persfektif yang
lebih holistik, dialektik, egaliter dan
dialektis. Pada bagian inilah dimulai
proses eksplorasi keilmuan yang
dilakukan para sarjana agama
(termasuk sarjana Islam) klasik
dan kontemporer. Semangat untuk
melakukan interpretasi ulang
dan/atau rekontruksi terhadap
rancang bangun epistemology studi-
studi keislaman menjadi salah satu
kata kunci (key word) agenda
pembaharuan pemikiran Islam.
Dengan rincian agendanya sebagai
berikut, yaitu; relasi antara Islam
normatif (atau doktrinal) dengan
Islam historis, relasi Islam vis a
vis dengan ilmu pengentahuan
modern (yang nota bene berasal
dari barat), relasi Islam via a vis
kebudayaan Barat Modern,
termasuk respon Islam terhadap
isu-isu mutakhir yang sedang
popular di Barat, seperti
demokrasi, gerakan emansipasi
wanita (feminisme) hingga isu-isu
politik serta ilmu pengetahuan dan
tekhnologi yang mengalami "ledakan
keberhasilan" yang luar biasa
menakjubkan.
Respon dunia Islam terhadap
stimulasi yang berasal dari dunia
luar (baca: peradaban Barat) dan
situasi yang melanda dunia Islam
sendiri terkadang menjadi factor
pendorong timbuinya reaksi balik,
baik dalam. formulasi sikap politik
maupun dalam bentuk gerakan
social-keagamaan. Sekedar
menyebutkan bebarapa contoh,
ketika Napoleon Bonaparte
menginjakkan kakinya pertama di
tanah Arab (1798), dunia Arab
(terutama Mesir) seakan
disadarkan dari mimpi panjang
kejayaan pada masa-masa Helenisme
, khususnya peradaban yang dicapai
pada masa Aleksanderia.
Bangsa Mesir disadarkan bahwa
temyata mereka sudah jauh
ditinggalkan Barat, baik dari segi
budaya maupun ilmu pengetahuan.
Hal ini mendorong para intelektual
Mesir, baik dari kalangan Islam
maupun Nasrani berupaya
melakukan otokritik terhadap
bangsa Mesir sendiri, kemudian
menelurkan beberapa gagasan
pembaharuan dunia Arab. Salah
satunya seperti yang dilakukan
oleh Tahthawi, yaitu menjadikan Prancis sebagai prototype
masyarakat modern, sehingga ada
keinginan meniru keberhasilan
tersebut. Persinggungan terus
menerus dan semakin intensif
dunia Arab dengan Barat
mendorong munculnya generasi
generasi Islam pembaharu di dunia
Arab, atau apa yang diistilahkan
oleh Albert Hourani dengan
generasi Islam liberal Arab.
Tahun 1949, dengan berdirinya
Negara Israel telah menyulut
perubahan paradigma dan pola
gerakan beragama di dunia Arab.
Pola gerakan keagamaan yang
semula liberal, kemudian"digantikan"
dengan model gerakan agama
kaurn revivalis dan fundamentalis,
seperti ditandai dengan munculnya
Ikhwan al-Muslimin dan Hizb at-
Tahrir di Mesir dan Tunisia. Pola
gerakan keagarnaan ini cukup
populer pada saat itu, menginggat
ada kesamaan semangat dunia
Arab untuk "melibas" Israel. Oleh
karenanya diperlukan model
gerakan keagamaan yang lebih
strict, berani, militan dan formal.
Namun, popularitas model
keagarnaan seperti inipun tidak
berlangsung larna, tahun 1969
menyusul kekalahan dunia Arab
melawan Israel (perang Arab vs
Israel), kemudian menjadi stimulasi
bagi munculnya gerakan
pembaharuan di dalam Islam,
sekaligus "gugatan" atas Islam
revivalis. Ini yang penulis sebutkan
nanti sebagai gerakan Islam liberal
generasi keempat.
Demikian paling tidak gambaran
singkat bagaimana hubungan dunia
dengan Barat dan otokritik
terhadap kondisi internal ummat
Islam telah melahirkan berbagai
bentuk pola gerakan keagamaan,
ada yang mengambil bentuk
gerakan Islam progresif (entah itu
dengan nama Islam liberal. Islam
substantif, Islam Transformatif,
Islam Neo-Modernis dlsb), atau
Islam revivalis (atau
fundamentalis, militant, radikal
disb) atau malah memilih model-
model Messianis dalam
mempeduangkan Islam.
Seiring dengan perubahan waktu,
model-model gerakan keagamaan
atau model-model tafsir
keagamaan akan semakin rumit
dan bervariasi, sehingga sukar
menjelaskan femenoma tersebut
secara detail. Oleh karenanya,
untuk dapat memahami
multiplisitas model-model tersebut
diperlukan model berpikir yang juga
multiplisitas, terbuka dan dialektis,
sehingga dapat dengan kreatif
menangkap ragarn variasi yang
boleh muncul dari tiap-tiap
turunan dari sebuah model utama
(mainstream). Sebagai contoh, dulu
kita dapat dengan mudah
mengidentifikasi Nahdhatul Ulama
sebagai model gerakan keagamaan
kaum ftadisional (atau sarungan
dan desa), namun sekarang, dalam
tubuh NU sendiri muncul model-
model gerakan keagarnaan yang
mungkin tidak terbayangkan
sebelumnya. Metamorfosa dan
transformasi geneologis gerakan
intelektual yang tedadi di NU
sekarang, jauh berbanding dengan
pencitraannya selaina inL Tidak
sedikit anak-anak muda NU yang
sekarang mengusung konsep-
konsep Islam modernis, dan bahkan
dalam batas-batas tertentu
mengusung gagasan-gagasan yang
dinilai liberaL Suatu penci~ yang
berbalik 180 derajat dari citra
sebagai organisasi desa, ortodok,
saningan dlsb. Demikian halnya,
dengan gerakan-gerakan social
keagamaan lainnya, seperti yang
tedadi di Muhammadiyah, Dewan
Dakwah (baca DDII) dan organisasi
ke-Islaman lainnya.
Metarnorfosa dan transformasi
geneologis gerakan intelektual
tersebut menjadi bukti, bahwa
fenomena pernbaharuan model
atau pola gerakan keagamaan
tidak bisa lagi dilihat dalam batas-
batas taksonomis yang kasar.
Karena, manakala ini dilakukan yang
paling dikhawatirkan adalah variasi-
variasi yang inovatif tersebut
tidak dapat dijabarkan. Dan itu
berarti kita menafikan sebuah
fakta dan keniscayaan historis.
Bahkan pada tingkat tertentu,
kecenderungan ini cenderung
membajak (hyacking) atau
mengungkung kreativitas dalarn
mengapresiasi agama. Ini yang
kemudian, menjadi satu persoalan
mendasar yang dihadapi oleh
agama mutakhir, ketika variasi-
variasi ini diabaikan, atau bahkan
cenderung dieliminasi, sebagai
akibat dari tuntutan atau kehendak
menghadirkan sebuah interpretasi
yang otoritatif dan tunggal.
Coba bayangkan, ketika orang-
orang seperti Nurholis Madfid atau
Abdun-dhman Wahid misalnya,
pemikiran pembaharuan Islam
mereka diletakkan sama dengan (=)
gerakan penibaharuan pemikiran
yang dilakukan oleh JIL. Kemudian,
oleh sebagian kalangan mereka
dianggap sebagai"konco-konco"-nya
Islam Liberal di Indonesia.
Kemudian sernua yang diidentikkan
dengan Islam liberal, dianggap
sama, sarna-sarna "sesaf dan
"menyimpang", apa ini adil.
Pertanyaan yang muncul adalah,
apakah karena mereka dilabelkan
sama-sama liberal lantas kemudian,
apa antara satu sama lain tidak
memiliki perbedaan, baik dalam
model interpretasi maupun sikap
keberagamaannya. Generalisasi
dengan taksonomi yang kasar ini
cenderung memiskinkan, dan
membuat kita bersikap pukul rata.
Hal serupa juga terjadi dalam kita
menilai gerakan Islam revivalis
atau militant. Hefner, Liddle dan
Adam Schwarz menilai DDII sebagai
gerakan Islam militant, kaku dan
anti Kristen dan Barat. Penilaian ini
sepertinya tanpa kecuali, padahal
di dalam tubuh DDII sendiri teijadi
proses metamorfosa geneologis
pandangan dan sikap beragamanya.
Sehingga berbicara DDII, kita tidak
bicara tentang satu warna, akan
tetapi beragam warna dan spec~
yang sekarang muncul, tumbuh dan
berkembang di dalamnya. Atau,
anggapan yang selama ini menilai
bahwa setiap gerakan keagamaan
militant seolah secara otomatis
atau dengan sendirinya
bermetamorfosa menjadi gerakan
radikal dan anarichis, juga
cenderung ahistoris. Karena dalam
kontek sosio-religio masyarakat
Indonesia memperlihafican tidak
otomatis, sikap beragama yang
militant dan tekstual lantas
melahirkan gerakan beragama yang
anarkhis.
Variasi-variasi ini harus jeli kita
lihat dalam rangka menghindari
satu perampakan dan pengabaian
terhadap fakta keragaman model
beragama. Disamping itu, pemikiran
ini akan mengantar kita kepada
satu pandangan bahwa, untuk
menjelaskan sebuah gejala prilaku
dan sikap beragama tidak memadai
hanya dalam satu dua variable
saja, dan menganggap secara
linear ia bersifat konstan (seperti
yang lazim, dipikirkan dalam logilca
formal). Fakta sekarang
menunjukkan, untuk sebuah
fenomena sederhana, dapat
menarik segudang variable dalam
dataran noumenanya. Oleh
karenanya, telaah kita terhadap
model atau pola beragama juga
mesti berada dalam kerangka pikir
ini bahwa, tidak ada model tunggal,
variable tunggal atau otoritas
tunggal tafsir dan produk tafsir
serta bergerak secara linear
dalam model yang tunggal.
Buku ini hadir untuk mendalami
proses yang rumit tersebut, agar
kita dapat menumbuhkan satu
model beragama yang lebih
ramah/familiar dengan keragaman,
bahkan dalam batas-batas
tertentu dapat berlaku arif ketika
berdialektika dengan realitas yang
serba jamak. Disamping itu, melalui
pemikiran-pemikiran dalam buku ini
dapat didekontruksi kondisi mental
beragama yang mudah terjebak
dalam posisi biner dalam melihat
posisi diri dengan orang lain.
Kemudian juga dapat meredam
sikap yang emosional, reaktif,
establish (mapan), mau menang
sendiri dan tergesa-gesa dalam
memberikan penilaian. Penulis tidak
berpretensi menulis ini dalam
lingkup normatif, benar atau salah
semata, akan tetapi karya ini lebih
merupakan manifestasi dari
respon penulis dalam membaca
dunia yang terjangkau melalui plus
minus kemampuan diri penulis.
Penulis juga tidak berkepentingan
apakah yang dituliskan ini benar
atau keliru, karena kita semua
tahu, tidak ada karya kemanusiaan
yang langgeng untuk setiap
tempat dan keadaan.
1 Lih. Zainal Abidin Bagir dkk.,
Integrasi ilmu dan Agama
(Interpretasi dan aksi), Mizan,
Bandung, 2005: 27
Diposkan oleh EKA HENDRY AR di 22
:58 0 komentar
Streotipe Militan
Terhadap Dewan Dakwah
Islamiyah Indonesia
A. LATAR
BELAKANG
Para futurolog memprediksi akhir
abad 20 atau memasuki babak
baru millenium kedua, merupakan
era kebangkitan agama-agama dan
keberagamaan di dunia. Salah
satunya dikemukakan oleh Naisbit
dan Aburdene (1990), dalam bukunya
Megatrend 2000. Kedunya
memprediksi era tersebut salah
satunya ditandai dengan
kebangkitan agama-agama atau
tradisi esoterik di dunia, seperti:
Islam, Budha dan Yahudi. Fenomena
tersebut setidaknya tampak pada
masyarakat Barat, dimana wujud
kebangkitan atau kesadaran
beragama lebih berupa menguatnya
kesadaran intrinsik keberagamaan
yang menonjolkan aspek-aspek
substansi keberagamaan.
Kebangkitan tersebut paling tidak
secara simbolis ditandai dengan
jargon agama formal tidak dan
spritualitas ya (formal religion is
no dan spirituality yes).1
Menguatnya kesadaran intrinsik
beragama tersebut kemudian
menjadi salah satu kecenderungan
(trend) dan sekaligus pola
beragama yang cukup mengemuka.
Disamping pola tersebut, juga ada
pola yang agaknya bertolak
belakang dari pola tersebut, yaitu
pola keberagamaan yang lebih
menonjolkan pelembagaan nilai-nilai
keberagamaan secara formal atau
ekstrinsik.
Pola kebangkitan pertama lebih
mengedepankan aspek substansial
keberagamaan, dan dalam kontek
sosial, karakteristik sosialisasinya
bersifat inklusif[1]. Sedangkan pola
kebangkitan kedua lebih
menonjolkan aspek-aspek simbolik,
atau istilah R. William Liddle (dalam
Zada, 2002) skripturalis. Disamping
dua pola ini juga terdapat pola-
pola lainnya3. ( Alqadrie dalam
Florus, 1994).
Namun sayang, proses kebangkitan
agama ini kemudian "terbentur"
dengan isu terorisme yang
diidentifikasi atas nama tuhan
(under banner of God), sebagai
konsekuensi dari mengemukanya
beberapa tindak kekerasan yang
dipersangkakan kepada penganut
agama tertentu. Fakta ini seakan-
akan menjustifikasi kecurigaan
bahwa Islam merupakan agama
sumber konflik dan segala macam
bentuk benih kekerasan serta
menjadi ancaman ideologis.
Pandangan ini seolah-olah
menjustifikasi tesis negatif
seperti dari Huntington (2001), A.N.
Wilson[3] (dalam Elmirzanah, 2002)
maupun Robert Spencer (2003).
Islam dianggap sebagai ancaman
yang menakutkan. Dalam bahasa
John Esposito (dalam Shaheen,
2004) ketakutan terhadap Islam
(green menace) akan menggantikan
ketakutan kepada komunis yang
disimbolkan dengan (red menace).
Dengan kata lain, ketakutan
terhadap Islam karena Islam
mengandung etos perang suci (the
holy war), ketakutan, fanatisme
dan kekerasan, ketidak toleran dan
tekanan terhadap wanita.
Stereotype negatif ini paling tidak
dikuatkan oleh hasil survey
tentang inter-Group Relation yang
dilakukan oleh Pollster Louis
Harris.(Shaheen, 2004) Survey
tersebut dilakukan dengan
mewawancara kurang lebih 3000
responden yang berasal dari ras
berbeda yaitu, Asia, Hitam, Latin
dan Putih.
Survey tersebut menunjukkan
sekitar 42 % responden setuju
dengan pernyataan bahwa Islam
merestui atau mendukung
terorisme. 47 % setuju dengan
pernyataan bahwa Muslim adalah
anti barat dan anti Amerika dan
62 % setuju dengan deklarasi
bahwa Muslim mengucilkan dan
menekan perempuan. Hasil survey
tersebut sangat memojokkan
posisi Islam dan penganutnya, dan
sangat potensial dalam membentuk
stereotipe negatif terhadap Islam.
Islam dipojokkan seolah-olah
menjadi sebuah agama yang
membenarkan tindakan anarkhis,
membenci Barat dan Amerika
serta diskriminasi terhadap
perempuan.
Mengemukanya tindak kekerasan
yang melibatkan kelompok Islam
garis keras, seperti yang terjadi
di Indonesia, mengakibatkan
terjadinya pengentalan stereotipe
negatif tersebut. Islam distigma
sebagai agama yang "keras, militan
dan radikal". Pada akhirnya
stereotipe negatif ini menjadi
instrumen propaganda yang
efektif untuk menyudutkan Islam.
Proses pembentukan stereotipe
negatif ini sebenarnya telah
terjadi sejak lama, baik pada masa
orde lama maupun orde baru. Pada
masa orde baru (ORBA), ini
dijadikan salah satu strategi untuk
mengkooptasi dan/atau upaya
pembunuhan karakter (caracter
assasination) terhadap organisasi
keagamaan yang dianggap ekstrim
kanan oleh penguasa.
Disamping itu, stereotipe dibentuk
oleh para ahli (ilmuan dan peneliti)
untuk mengidentifikasi kelompok
keberagamaan tertentu, seperti
yang terjadi pada Dewan Dakwah
Islamiyah Indonesia (DDII). Robert
Hefner[4] (Dalam Zada, 2002;
Hefner, 1952) mengidentifikasi DDII
sebagai gerakan Islam anti liberal,
dengan beberapa karakteristik,
seperti: tekstual (scriptural), anti
terhadap sesuatu yang berbau
Barat (seperti sekularisme,
feminisme, kristenisasi dan
termasuk penentangan terhadap
pengiriman mahasiswa ke
universitas-universitas di Eropa
dan Amerika beserta produk
pemikiran yang dibawanya kemudian.
Adapun sarjana lain yang juga
mempunyai penilaian miring
terhadap DDII adalah Adam
Schwarz. (Zada, 2002) Schwarz
mengidentifikasi DDII sebagai
gerakan Islam Militan dengan
karakteristik kaku (rigit) dalam
interpretasi, anti Barat dan agama
Semit serta kritis terhadap
kelompok etnis Cina. Terlepas dari
motif apapun di balik indetifikasi
tersebut, yang jelas ini kemudian
membentuk stereotipe negatif
terhadap DDII, yaitu mengesankan
bahwa DDII merupakan bagian dari
lembaga keislaman yang keras,
radikal, tekstualis / skripturalis
dalam memahami ajaran dan
bersikap sektarian. Bahkan, William
Liddle (dalam Barton, 1999), menilai
bahwa tulisan-tulisan dari Media
Dakwah yang diterbitkan DDII,
mewakili pandangan dan
karakteristik DDII sebagai
organisasi yang picik, tidak
berwawasan dan anti-Semit.
Pandangan ini menurut hemat
penulis, disadari atau tidak telah
membentuk stereotipe negatif
terhadap DDII. Sebagaimana
diketahui, kelahiran DDII dibidani
oleh sejumlah tokoh yang nota
bene merupakan mantan tokoh-
tokoh Masyumi[5], seperti
Muhammad Natsir, Rasyidi, K.H.
Taufiqurrahman dan lain-lain.
Mereka-mereka ini notabene yang
dicap "keras" oleh pemerintah
Soekarno dan Soeharto. Stigma
sebagai tokoh-tokoh Islam garis
"keras" ini yang kemudian
membuahkan pembubaran terhadap
Masyumi. (Syarif & Nasrullah, 2003
; Sirozi, 2004).
Sementara berdasarkan observasi
awal penulis, secara normatif
(baca: Anggaran Dasar) dan
empirik, tidak ditemukan konsep-
konsep dasar dan fakta empirik
yang cenderung kepada stereotipe
negatif yang dimaksud. Karena
DDII merupakan yayasan Islam
yang bergerak dalam bidang
dakwah dan pemberdayaan
masyarakat, dan mengemban misi
keislaman secara universal.
Sepanjang pengetahuan penulis
belum ditemukan catatan
keterlibatan DDII dalam tindakan
kekerasan seperti yang dilakukan
oleh FPI atau laskar jihad
misalnya. Bagaimana bisa Schwarz
dan Hefner (Zada, 2002) bisa
sampai pada kesimpulan bahwa
DDII merupakan organisasi Islam
yang militan dan eksklusif.
Pada bagian ini menurut hemat
Penulis menarik untuk diteliti
secara lebih mendalam, yaitu
antara pembentukan stereotipe
negatif oleh beberapa pakar
dengan fakta sesungguhnya
tentang keberadaan yayasan DDII.
Apakah steotipe negatif itu
sepenuhnya benar ?, atau jika
tidak benar, lantas mengapa
sampai stereotipe tersebut
muncul kepermukaan ?. Penelitian
ini akan mengambil contoh studi
terhadap DDII Perwakilan Kalbar
yang merupakan perwakilan DDII
Pusat di daerah ibukota propinsi.
B. RUANG LINGKUP PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini
berkenaan dengan pembentukan
stereotipe terhadap DDII oleh tiga
orang penulis dan peneliti Barat,
yaitu Adam Schwarz, Robert
Hefner dan R. William Liddle.
Mengingat beragamnya perisitilahan
yang digunakan untuk
mengidentifikasikan gerakan-
gerakan keagamaan garis keras,
maka dalam penelitian ini digunakan
istilah Islam Militan. Melalui
penelitian ini akan diteliti
kebenaran stereotipe bahwa DDII
adalah institusi keislaman yang
militan.
Adapun yang dimaksudkan dengan
stereotipe dalam penelitian ini
adalah bentuk pencitraan dan sikap
seseorang atau sekelompok orang
terhadap kelompok lainnya.
Pencitraan atau pengambaran
tersebut berupa perampakan atau
pendistorsian terhadap sebuah
eksistensi suatu kelompok
tertentu, berdasarkan pengalaman
yang sedikit atau fakta-fakta dan
bukti yang kurang memadai,
sehingga mengabaikan hal-hal
fundamental yang menjadi dasar
atau latar belakang suatu cara
berpikir dan bertindak kelompok
tertentu. Hal tersebut kemudian
menimbulkan kesan negatif
terhadap kelompok yang diberikan
stereotipe demikian.
Kemudian indikator militan yang
dimaksud dalam kontek penelitian
ini meliputi; pola interpretasti
terhadap teks keagamaan
cenderung bersifat tekstual /
literalis (skriptural), anti terhadap
produk pemikiran Barat, seperi
sekularisme, Feminisme dan
Pemikiran Progresif. Kemudian juga
"anti" terhadap agama Semit
(baca: Yahudi dan Kristen serta
gerakan Kristenisasi) dan kritis
terhadap etnis Cina.
1. Meskipun di beberapa negara
Eropa Barat dan Amerika, pasca
kasus 11 September 2001 kuantitas
orang yang menganut agama
formal, seperti Islam malah
bertambah jumlahnya. Robert
Spencer (2003) seorang anggota
Dewan Christian-Islamic Forum,
meskipun disatu sisi ia "mengugat"
(atau paling tidak
mempertanyakan) kebenaran Islam
sebagai agama damai, namun di sisi
lain ia mengatakan bahwa Islam
merupakan the world's fastest-
growing faith (agama yang
berkembang paling pesat di dunia).
Ia memprediksikan pada tahun 2025
kaum muslim akan melebihi jumlah
penganut Kristiani (sekitar 30 %
penduduk dunia, sementara Kristen
hanya 25 %). Pertambambahan
jumlah ini dikarenakan Islam bisa
melakukan "jihad demografik",
salah satunya dengan
"memproduksi anak" sebanyak-
banyaknya. Lih. Kata Pengantar
Penerbit dalam Robert Spencer.
(Spencer, 2003). Dan menurut Prof.
Syarif I. Alqadri, disamping jihad
demografik, juga terjadi
counciousness jihad (jihad
kesadaran) yang juga terjadi di
Barat (terutama di Eropa).
(Wawancara dengan Prof. Syarif. I.
Alqadrie). Lih. Pula Amanah edisi 31
Oktober 2002, dikatakan dalam
waktu kurang lebih 3 bulan sejak
September 2001 hingga November
2001 (pasca tragedy WTC 11
Septermber), jumlah Muslim baru
di AS mencapai 34.000 orang, dalam
waktu satu tahun (11 September
2001 hingga 11 September 2002)
jumlah ummat Islam di Amerika
mencapai 120.000 orang.
[1]. Kebangkitan agama tipologi
inklusif mengilhami lahirnya konsep-
konsep serupa pada masyarakat
Islam Indonesia, meskipun dengan
beragam peristilahan, seperti:
Muslim Abdurrahman (1995)
menggunakan istilah Islam
Transformatif, Azyumardi Azra
(2002) dengan istilah Islam
Substansial.
3. Disamping pola kebangkitan
tersebut, ada pula tipe lain
terutama yang berkenaan dengan
pola penyikapan oleh penganut
agama terhadap persoalan yang
dihadapinya dalam kontek sosio-
historis. Menurut Bryan Wilson
(dikutif Syarif. I. Alqadrie dalam
Florus dkk., 1994), paling tidak ada 7
(tujuh) tipologi reaksi, yaitu: (1)
Tipe Conversionist (2) Tipe
Revolusioner (3) Tipe
introversionist, (4) Tipe
manipulationist atau gnostik (5)
Tipe Thrumaturgical. (6) tipe
reformist Terakhir, tipe utopian.
[3]. A.N. Wilson dalam bukunya
Againts Religion: Why We Should
Try Life Without It, mengatakan
bahwa Tuhan adalah akar dari
segala macam kejahatan, karena
agama tidak hanya membuat orang
ekstase, seperti efek opium.
Sebagaimana yang dikatakan oleh
Karl Marx (agama adalah candu).
Efeknya kemudiaan membuat orang
ternina bobok atau tertidur.
Namun bagi Wilson, efek agama
jauh lebih berbahaya, karena ia
tidak hanya membuat orang
tertidur, akan tetapi sebaliknya,
malah akan membuat orang
menjadi brutal dan anarkhis.
(dalam Elmirzanah, 2002)
[4]. Hefner (1952) juga
menggunakan istilah konservatisme
terhadap DDII, terutama ketika ia
menjelaskan munculnya Komite
Indonesia untuk Solidaritas dengan
Dunia Islam (KISDI), yang menurut
Hefner merupakan badan yang
didirikan oleh sayap paling
konservatif dari DDII.
[5]. DDII merupakan "jelmaan" dari
Masyumi. Ada beberapa
indikatornya, yaitu: (1) DDII
didirikan oleh sebagian besar
mantan tokoh-tokoh Masyumi,
demikian halnya dengan
kepengurusan DDII Pusat pada
awalnya sebagian besar adalah
mantan tokoh-tokoh Masyumi, (2)
DDII lahir ketika Natsir dan tokoh-
tokoh Masyumi lainnya, gagal
"menghidupkan" kembali Masyumi
yang dibubarkan oleh Soekarno, (3)
Sekretariat yang digunakana oleh
DDII merupakan ex. Sekretariat
Masyumi. (Syarif & Nasrullah, 2003).
PROLOG PENULIS
Puji syukur kepada Allah SWT.,
karena atas seluruh kemurahan
dan kasih sayang-Nya, penulis
dapat menyelesaikan penulisan buku
kecil ini. Apa yang ada di tangan
pembaca ini merupakan kumpulan
dari beberapa tulisan ringan
penulis seputar persoalan
keagamaan, sosial kebudayaan dan
fenomena kekerasan yang terjadi
baik dalam kontek nasional maupun
lokal Kalimantan Barat. Beberapa
diantaranya pernah dimuat di
media masa lokal Kalimantan Barat.
Penulis berpandangan bahwa, jika
tulisan ini hanya dimuat di koran,
paling-paling hanya dibaca satu
hari saja, dan setelah itu tulisan
itu akan menjadi bungkusan macam-
macam hal, maka akan lebih
permanen gagasan kalau tulisan
tersebut dibukukan.
Sekecil apapun gagasan yang
termuat dalam buku ini, tetap
saja ia memiliki makna yang
sangat mendalam. Karena paling
tidak, melalui buku kecil ini
terdokumentasi beberapa fakta,
pemikiran, pengetahuan dan
pengalaman dari satu masa yang
tidak akan pernah terulang kembali
di masa yang akan datang. Ke
depan kita tidak tahu, apa isu-isu
pembaharuan Islam atau
radikalisme kaum agamawan masih
cukup relevan, karena pasti
persoalan ke depan akan jauh lebih
komplek dan holistik. Seperti
halnya zaman kita terhadap masa
lalu, tidak sedikit persoalan yang
sekarang ada tidak terpikir dan
terbayangkan oleh mereka yang
hidup di masa lalu. Oleh karenanya,
urgensi dari menghadirkan
fenomena zaman kita, setidaknya
dapat memberikan inspirasi dan
rantai sejarah pemikiran bagi
masa lalu, masa kini dan sejarah
masa depan.
Tulisan ini sengaja mengambil judul
Mendongkrak Kualitas Ummat
Islam, karena diantara persoalan
yang sukar dipecahkan--baik dalam
konteks bernegara dan beragama-
adalah persoalan menata
mentalitas manusia (baik dalam
kontek sebagai masyarakat
Indonesia maupun sebagai ummat
beragama). Mentalitas yang
dimaksud adalah terkait dengan
cara berpikir dan bersikap
(berkenaan dengan falsah
eksistensi diri, relasi dengan orang
dan bangsa lain, memandang
prestasi, investasi serta
mendefenisikan masa depan dlsb.),
budaya dan gaya hidup serta
prestasi dan produktifitas bekerja.
Padahal dari sekian banyak
persoalan bangsa ini, proses
menata mentalitas merupakan
salah satu masalah yang terberat,
karena disamping memerlukan
waktu yang tidak singkat, juga
membutuhkan kesadaran yang
sungguh-sungguh untuk mau
berubah dan merevolusi kesadaran.
Jika, selama ini kita cukup puas
dengan apa yang kita miliki
sekarang, maka semangat
perubahan menghendaki kita untuk
membuat berbagai terobosan dan
inovasi secara lebih kreatif,
kontekstual dan berorientasi pada
kualitas. Baik itu berkenaan dengan
pengembangan ilmu pengetahuan,
prestasi dalam kerja dan
produktifitas dalam berkarya
sehingga dapat memberikan
kontribusi bagi masyarakat dan
ummat manusia.
Sementara itu, faktor-faktor
yang selama ini cenderung jadi
penghambat harus kita singkirkan,
seperti kurang bersemangat
(pesimis memandang kehidupan),
mudah menyerah (tidak tabah
menghadapi proses), berpikir dan
bertindak menerabas, bermental
budak (selalu menunggu perintah
dan bimbingan), tidak berkarakter,
tidak amanah, mengembangkan
sikap sombong, iri dan dengki
serta cenderung mencari kambing
hitam atas keterbatasan diri.
Karena faktor-faktor inilah yang
seringkali menyebabkan penyakit
mental kita menjadi semakin
kronis dan sukar untuk
disembuhkan.
Terkait dengan keberadaan ummat
Islam, sebagai ummat yang
memiliki modal yang besar dari
segi jumlah, harus juga diimbangi
dengan peningkatan kualitas dan
peran sosial kemasyarakatannya,
baik dalam kontek politik, ekonomi,
budaya dan keagamaan. Karena
kalau tidak demikian, maka jumlah
yang besar itu malah akan menjadi
beban bagi kehidupan berbangsa
dan bernegara. Oleh karenanya,
ummat Islam juga harus
melakukan agenda serupa yaitu
menata kembali mentalitas
mereka, jika mereka tidak mau
dianggap sebagai beban atau
"gulma" yang terus menerus
mengelayuti kelangsungan hidup
berbangsa dan beragama.
Hal ini merupakan tantangan serius
mengingat apa yang terjadi akhir-
akhir ini, agama seringkali dijadikan
sarana atau alat untuk
menjustifikasi berbagai bentuk
tindakan kekerasan yang mengatas
namakan kebenaran Tuhan. Padahal
sebagaimana yang lumrah kita
temukan dalam masyarakat bahwa,
tidak sedikit manusia manakala
berbicara perkara agama
cenderung kehilangan daya kritis
dan rasionalnya. Hak ini boleh jadi,
karena agama yang mereka warisi
adalah model agama yang "mati",
"lapuk" dan tidak lagi relevan
dengan kehidupan mutakhir mereka.
Tentu ini bukan salah agama,
karena agama itu instrumen
positif yang bersifat pasif,
manusialah yang semestinya harus
lebih cerdas dan kreatif dalam
mendefenisikan dan mengamalkan
agama. Model pemahaman dan
keberagamaan yang demikian,
tentu juga terkait secara
kontinum terhadap sikap mental
penganutnya. Oleh karenanya dapat
disimpulkan sepanjang kita tidak
merubah cara berpikir, bersikap
dan totalitas mentalitas kita,
maka berbagai persoalan akan
terus menerus menetes, menjadi
mata rantai masalah yang semakin
hari semakin sukar untuk
terpecahkan.
Tulisan ini tidak terlalu
berpretensi menjawab secara
tuntas persoalan tersebut, tapi
paling tidak ia dapat mengugah
kesadaran dan sedikit memberikan
pencerahan bagi para pembaca
yang budiman. Karena yang
namanya manusia itu sesungguhnya
tidak ada yang benar-benar "keras
kepala", sepanjang ada proses
mengingatkan dan menggedor
kesadaran secara terus menerus
sepanjang hayat.
Akhirnya, sebelum menutup prolog
ini, penulis perlu mengucapkan
terima kasih kepada saudara Helmi
Hardi yang membantu mendisain
tulisan-tulisan yang terserak ini
menjadi sebuah buku kecil yang
menarik untuk dibaca. Kepada
kedua orang tuakua, saudara-
saudaraku, istriku Heny Rahmawati
serta almarhumah putriku Karen
Abiza Schimmel penulis dedikasikan
karya ini, sebagai bentuk
penghormatan dan terima kasih
atas dukungan mereka semua.
Kepada para pembaca, penulis
berharap dengan lahirnya buku ini
dapat menjadikan inspirasi untuk
melakukan hal serupa yang
mungkin jauh lebih baik dari ini
semua. Wassalam.
Diposkan oleh EKA HENDRY AR
diambil dari berbagai sumber di internet
MENGGAGAS PERANAN IMAJINASI DALAM TEORI DEKONSTRUKSI DERRIDA
Oleh: Bernhard Morin Epalonian
I. Pendahuluan
"Postmodernisme, tantangan bagi
filsafat". Demikian Bambang
Sugiarto memberi judul pada
sebuah buku karyanya.[1] Apa
maksud ungkapan ini? Menurut
Bambang, sebagai sesuatu yang
menantang, postmodernisme
membongkar tatanan filsafat
modern yang diwarnai oleh
dominasi rasio. Rasio bagi
postmodernisme tidak sepenuhnya
menjawabi realitas, sebab bagi
postmodernisme, realitas selalu
bersifat ambigu. Dalam ambiguitas
realitas itu, logika sebagai elemen
yang menempatkan