WELCOME

SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI MOECHTAR EL-NAOEMI, SILAHKAN ANDA MEMBACA-BACA ARTIKEL YANG ANDA SUKA, TAPI JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ANDA/COMENT POSITIF YANG UNTUK KAMI SANGAT BERARTI . . . . THANKS YOUR VISITED SELAMAT MEMBACA ! ! ! !
English Arabic French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Dunia psikolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia psikolog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Desember 2010

PEMBENTUKAN KARAKTER MANUSIA MENURUT PARA AHLI

Thobib Al-Asyhar
(Alumni PSTTI UI, saat ini Mahasiswa Program Doktor Psikologi Islam UIN Jakarta)
Dalam buku The Psychology of Moral Development (1927), Lawrence Kohlberg menyimpulkan terhadap hasil penelitian empiriknya terhadap perkembangan moralitas anak-anak dari berbagai latar belakang agama, yaitu Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, dan Islam, bahwa agama dan institusi agama tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral seseorang. Teori yang dihasilkan dari penelitian Kohlberg dikenal dengan teori kognitif-developmental, yaitu 3 (tiga) tingkatan dan 6 (enam) tahapan perkembangan moral yang menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakilil seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan dan prinsip keadilan. Menurutnya, prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.
Pendekatan Kohlberg yang sangat empirik tersebut tidak mempertimbangkan potensi suci (homo devinans and homo religious) yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan moral dan pembentukan perilaku.

Mengatasi Sikap Nggak Enakan

Seorang teman mengeluhkan sikapnya yang kerap mengorbankan diri karena perasaan nggak enak terhadap orang lain atau sebuah situasi dan kondisi. Ia mencontohkan sebuah situasi ketika ia harus membatalkan sebuah acara yang musti ia tandangi hanya karena ada tamu tak diundang bertandang kerumahnya ketika ia hendak berangkat, ketika ia membiarkan seorang pelayan restoran yang salah menghitung jumlah kembalian uang yang semestinya ia dapatkan, ketika ia enggan menegur seorang karyawan hanya karena mengetahui latar belakang keluarganya kurang mampu, ketika ia sulit mengatakan "tidak" kepada tetangga atau kerabat yang meminta bantuan finansial dan beragam peristiwa lainnya.

Minggu, 13 Juni 2010

Membaca Pikiran Orang Lain Dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak anggapan bahwa membaca pikiran adalah pekerjaan seorang psikolog, paranormal atau bahkan dukun. Namun, percaya atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari, anda semua adalah seorang pembaca pikiran. Sebab, tanpa kemampuan untuk mengetahui pikiran serta perasaan orang lain, kita semua tak akan mampu menghadapi situasi sosial semudah apapun. Dengan membaca pikiran, kita dapat membuat perkiraan tentang tingkah laku seseorang lalu membuat kita dapat menentukan keputusan berikutnya.

Sabtu, 10 April 2010

Mengubah Keyakinan

Percobaan berikut ini pernah
dilakukan di Woods Hole
Oceanographic Institute. Barangkali
Anda pun bisa melakukannya.

Ambillah sebuah akuarium, lalu bagi
dua dengan sebuah dinding kaca
yang bening sekali. Terciptalah
semacam "akuarium ganda".

Sekarang carilah seekor ikan
barracuda dan seekor ikan mullet
(barracuda memang memangsa
mullet). Masukkan keduanya ke
dalam masing-masing akuarium.

Lihatlah dalam sekejap saja,
barracuda akan segera menyerang
mullet. Lalu... duk! Ia ternyata
menabrak dinding kaca pembatas
yang kita pasang itu. Lalu ia
berbalik lagi, mencoba lagi,
menyerang lagi..... duk! Lihat dan

Minggu, 21 Maret 2010

FASE PERKKEMBANGAN ANAK

perkembangan anak menurut seorang psikolog Eric Ericsson terbagi menjadi beberapa fase,yaitu:
1.>Masa bayi (0-1,1/2 th),masa ini merupakan alasan ketika kebutuhan fisik anak harus terpenuhi,sebagai contoh;menyusu,di dekap,di gendong dsb.Masa ini,anak sangat butuh orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.Ia butuh perasa'an tentram dan terlindungi,bila tidak maka ia akan menjadi pribadi yang selalu curiga dan ragu-ragu.
2.>Masa todler (1,1/2-

Selasa, 09 Februari 2010

Kemandegan DIRI (STIGNASI)

Kemandegan diri (Stignasi) adalah
keadaan dimana keadaan diri kita
tidak mampu untuk menghadapi
dan menyelesaikan masalah
yang sedang terjadi, dalam
keadaan itu semua jalan seakan
tertutup sehingga diri kita tak
mampu bergerak maju, dan jika
dibiarkan terus-menerus demikian
yang terjadi adalah kemunduran,
yang akhirnya mengakibatkan
kehancuran.
Dalam tilisan ini saya ingin
memberikan tips yang tentang
bagaimana cara kita dalam
menghadapi kemandegan diri
(stignasi) itu, sesuai pengalaman
saya Alhamdulillah cara ini cukup
ampuh digunakan.
Langkah-langkah yang perlu
dilakukan untuk menyelamatkan diri
kita dari kemandegan diri (stignasi)
adalah dengan menyusun tangga
dinamika yang sesuai dengan
ukuran diri kita :
1. Menaikan Keinginan
Jika cita-cita awal kita adalah
menjadi karyawan, maka
tingkatkanlah keinginan itu
sehingga kita mampu menjadi
supervisor/manager, atau
kedudukan lain yang sesuai dengan
kemampuan yang kita miliki.
"Keinginan pada dasarnya adalah
motivesi penggerak yang
mendorong niat kita untuk
berprestasi"
2. Menaikan Pengetahuan
Pengetahuan yang kita dapatkan
tidak saja membuat kita memiliki
pengetahuan, tetapi juga
mempengaruhi/memperbaharui
definisi kita tentang "diri kita".
3. Menaikan Kemampuan
Kalau kemampuan kita tidak
bertambah, sementara kebutuhan
dan keinginan kita terus
bertambah, yang timbul adalah
"konflik diri".
"Kesusksesan bukanlah kunci
kebahagiaan, kebahagiaanlah yang
menjadi kunci kesuksesan
tersebut. Jika kamu mencintai apa
yang kamu kerjakan, maka kamu
akan menemui kesuksesan".
Semoga apa yang saya tulis dapat
bermanfaat bagi Anda, dan jangan
pernah berhenti berusaha sambil
berdo'a, karena semuanya itu
hanya lah jalan sedangkan hasilnya
hanya Allahlah yang menentukan.
Good Luck

Kekuatan Tanpa- Kekerasan

Dr. Arun Gandhi 1

Pada tanggal 9 Juni ia memberikan
ceramah di Universitas Puerto Rico
dan bercerita bagaimana
memberikan contoh tanpa-
kekerasan yang dapat diterapkan
di sebuah keluarga.

Waktu itu saya masih berusia 16
tahun dan tinggal bersama di
orang tua di sebuah lembaga yang
didirikan oleh kakek saya, di
tengah-tengah kebun tebu, 18 mil
di luar kota Durban, Afrika
Selatan. Kami tinggal jauh di
pedalaman dan tidak memiliki
tetangga. Tak heran bila saya dan
dua saudara perempuan saya
sangat senang bila ada
kesempatan pergi ke kota untuk
mengunjungi teman atau menonton
bioskop.

Suatu hari, ayah meminta saya
untuk mengantarkan beliau ke
kota untuk menghadiri konferensi
sehari penuh. Dan, saya sangat
gembira dengan kesempatan itu.
Tahu bahwa saya akan pergi ke
kota, ibu memberikan daftar
belanjaan yang ia perlukan. Selain
itu, ayah juga meminta saya untuk
mengerjakan beberapa pekerjaan
yang lama tertunda, seperti
memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat
konferensi, ayah berkata, "Ayah
tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu
kita akan pulang ke rumah
bersama- sama."

Segera saja saya menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan yang diberikan
oleh ayah saya. Kemudian, saya
pergi ke bioskop. Wah, saya benar-
benar terpikat dengan dua
permainan John Mayne sehingga
lupa akan waktu. Begitu melihat
jam menunjuk- kan pukul 5:30,
langsung saya berlari menunju
bengkel mobil dan terburu-buru
menjemput ayah yang sudah
menunggu saya. Saat itu sudah
hampir pukul 6:00.

Dengan gelisah ayah menanyai saya,
"Kenapa kau terlambat?"

Saya sangat malu untuk mengakui
bahwa saya menonton film John
Wayne sehingga saya menjawab,
"Tadi, mobilnya belum siap sehingga
saya harus menunggu."

Padahal, ternyata tanpa
sepengetahuan saya, ayah telah
menelepon bengkel mobil itu.

Dan, kini ayah tahu kalau saya
berbohong. Lalu ayah berkata, "Ada
sesuatu yang salah dalam
membesarkan kau sehingga
kautidak memiliki keberanian untuk
menceritakan kebenaran pada
ayah. Untuk menghukum kesalahan
ayah ini, ayah akan pulang ke
rumah dengan berjalan kaki
sepanjang 18 mil dan
memikirkannya baik-baik."

Lalu, ayah dengan tetap
mengenakan pakaian dan
sepatunya, ayah mulai berjalan kaki
pulang ke rumah.

Padahal hari sudah gelap,
sedangkan jalanan sama sekali
tidak rata. Saya tidak bisa
meninggalkan ayah, maka selama
lima setengah jam, saya
mengendarai mobil pelan-pelan di
belakang beliau, melihat
penderitaan yang dialami oleh ayah
hanya karena kebohongan yang
bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saja tidak pernah akan
berbohong lagi.

Seringkali saya berpikir mengenai
episode ini dan merasa heran.
Seandainya ayah menghukum saya
sebagaimana kita menghukum anak-
anak kita maka apakah saya akan
mendapatkan sebuah pelajaran
mengenai tanpa-kekerasan? Saya
kira tidak. Saya akan menderita
atas hukuman itu dan melakukan
hal yang sama lagi.

Tetapi, hanya dengan satu
tindakan tanpa-kekerasan yang
sangat luar biasa, sehingga saya
merasa kejadian itu baru saja
terjadi kemarin. Itulah kekuatan
tanpa-kekerasan.

1 Dr. Arun Gandhi adalah cucu
Mahatma Gandhi dan pendiri
Lembaga M.K. Gandhi untuk Tanpa-
Kekerasan.

(diadaptasi dari "The Power Of
Nonviolence", copyright Dr. Arun
Gandhi)

Kecemasan Di Bawah Sadar

Kalau seseorang gagal membentuk
citra-diri dan konsep diri-nya, apa
sih yang akan terjadi?

Psikolog James Marcia, setelah
melakukan study cukup mendalam
tentang persoalan ini sampai
kepada kesimpulan, 'akan terjadi
kekaburan identitas' pada diri
mereka. Psikolog lain, Erikson,
malah menambahkan; orang itu
bisa jadi gagal menuju
kedewasaannya. Ia akan terus
terlunta-lunta dalam 'pencarian-
diri' yang berkepanjangan dan
kacau balau.

Akibat lainnya, akan muncul
perasaan cemas. Yang anehnya,
perasaan "cemas" itu nggak
kerasa. Cemasnya lain, bukan
cemas, sembarang cemas,
semacam "cemas di bawah sadar".
Karena itu, wajahnya sih akan
biasa-biasa aja. Tapi tengoklah
tingkah-lakunya sehari-hari.

Richard Logan, juga seorang
psikolog, berhasil menunjukkan
beberapa mekanisme 'pertahanan-
diri' yang dilakukan seorang untuk
mengurangi kecemasan akibat
kekaburan identitas yang tengah
dialaminya. Semacam kompensasi.
Inilah dia:

1. Melakukan "pelarian
diri sementara"
Dalam istilah psikologi sering
disebut "temporary escape".
Mencakup misalnya kegemaran-
kegemaran yang keterlaluan dalam
suatu bentuk kegiatan tertentu.
Misalnya gemar pesta-pesta,
mabuk-mabukan, hobi nonton, dsb.
'Pelarian' ini bertujuan untuk
mengimbangi rasa-kabur dan tak
pasti yang menggerogoti jiwa
mereka.

2. Mencari "Barang
Pengganti"
Lantaran kekacauan identitas
mereka, beberapa orang mengambil
jalan pendek, yaitu dengan mencari
'barang pengganti' atau
'substitute'. Misalnya saja, mencari
bentuk-bentuk kepuasan dalam
peran-peran tertentu. Peran-
peran yang terbatas ini memang
sedikit bisa melegakan kekacauan
identitas mereka. Dalam hal ini ada
berbagai variasi "pengganti"
misalnya mengidentifikasi diri
secara berlebihan dan membabi
buta pada 'sesuatu'. Ya...
katakanlah misalnya pada mode
baju, potongan rambut, gaya hidup
idola, bahkan termasuk pemujaan
barang-barang material lain entah
itu tas, sepatu, atau mobil. Ia tak
bisa menjadi "dirinya sendiri"

3. Ikut Kegiatan-
Kegiatan Yang Justru
Makin Mengaburkan
Perasaan kacau dan kabur
identitas ini juga menyebabkan
banyak orang melakukan kegiatan-
kegiatan yang tanpa disadarinya
justru makin memperkuat
'kekaburan'-nya saat itu. Contoh
konkrit ngebut misalnya. Memang,
mungkin ya, untuk beberapa saat
bisa meredam kekacauan
perasaannya. Tapi, itu hanya
sementara. Setelah itu, justru
perasaannya kian 'kabur', kian
hambar. Hal yang sama juga
terjadi pada orang-orang yang
ngadain kegiatan-kegiatan 'aneh'.
Pasalnya mereka cuma pengen
menarik perhatian orang-orang di
sekelilingnya.

4. Suka Pada Kerjaan
Yang Sia-Sia
Orang-orang yang "malang" ini
sebetulnya cuma menghabiskan
energi tanpa meninggalkan atau
mendapatkan makna apa-apa dari
kerjaannya itu. Contohnya orang
yang suka pada kerjaan 'iseng',
termasuk yang gemar membaca
buku-buku atau majalah 'murahan',
hanya sekedar menenangkan
"kecemasan" sementara waktu
saja. Contoh lain, suka ngerjain
tindakan-tindakan tercela,
disamping juga sebetulnya 'sia-sia',
tanpa makna yang berguna. Bahkan
buat dirinya pun, tidak. Malangnya,
saking karena terbiasa
ngerjainnya... mengakibatkan
perbuatan-perbuatan yang sia-sia
itu, mereka nilai sah, betul, banyak
gunanya!

Dengan kata lain
'ketidakbermaknaan diri' (diri tak
bermakna)-nya dilegimitasikan
dengan tingkah-laku tanpa makna
pula.

Inilah sebabnya kenapa kalo
mereka dikasi tahu, "Bung, buat
apa sih kamu ngerjain itu. Kan
kagak ada gunanya", mereka tetap
aja ngotot "Ach, kau nih gimana
sih. Jangan kuno gitu dong. Kan
kini jaman modern". Kaciiihaan deh
lu...!

Anda sendiri bagaimana?

Jangan Terlalu Cepat Berhenti

Kesuksesan bukan sebuah
kebetulan. Sukses pun bukan
sebuah jalan yang sulit sebetulnya.
Namun mengapa ada orang yang
sukses, dan ada pula orang yang
gagal. Dengan memahami hal ini,
insyaAllah kita jauh lebih mudah
menggapai puncak-puncak
kesuksesan.

Ternyata ini hanya sebuah
permainan pikiran. Apa yang ada
dalam pikiran kita akan
mengejawantah dalam berbagai
sikap, perilaku dan kebiasaan kita.
Saya bisa katakan penyakit
pertama yang harus kita obati
adalah pikiran kita. Istilah saya
"kita perlu install ulang" otak kita
sehingga kita benar-benar lahir
baru kembali menjadi manusia
berbeda, menjadi manusia yang
jauh lebih baik lagi.

Intinya yang perlu kita pahami
adalah, setiap kita sudah
mengambil keputusan, kita harus
tahu bahwa mulai hari itu
pekerjaan kita adalah
menyelesaikan masalah, mengatasi
hambatan, dan melanjutkan
perjalanan. Kalau ini kita sadari,
jauh lebih enjoy dan tidak kaget.
Begitulah memang sunnatullah-nya,
track itu pasti harus kita lalui.
You are on the right track. Anda
berada dalam jalan normal (lazim).

Sebetulnya tidak ada orang yang
betul-betul gagal, yang ada
hanyalah orang yang terlalu cepat
berhenti, sebelum sampai ke
puncak harapan sukses yang ia
cita-citakan. Sebagian besar kisah
kegagalan adalah kisah orang-orang
yang menyerah sebelum waktunya.

Dalam permainan sepakbola,
sekalipun pada babak pertama kita
sudah kalah 6-0 dari lawan, apakah
kita langsung memutuskan, "udah
sajalah, kita kalah, lalu berhenti
main."? Tidak! Selagi pluit panjang
belum berbunyi, kita akan terus
menggempur gawang lawan. Seakan-
akan tidak peduli dengan yang
sudah terjadi. Kalau kita amat
sangat peduli dan terpengaruh
dengan skor pertandingan
setengah jalan, tentu saja
semangat main kita langsung mati,
dan akan sering bunuh diri.
Perhatikanlah betapa banyak gol-
gol legendaris justru muncul at
the last minute, ya pada menit-
menit terakhir. Keyakinan yang
kuat itu betul-betul magic.

Ada satu kisah di sebuah lokasi
pertambangan. Berdasarkan
informasi akurat yang ia peroleh,
Bill membeli sepetak tanah yang
cukup luas yang diperkirakan
dibawah tanah itu terdapat emas
yang sangat banyak. Setelah
mendirikan gubuk untuk tinggal
mulailah ia menggali dibantu oleh
sahabat dan keluarganya. Berbulan-
bulan, setiap hari ia menggali.
Namun belum juga ada tanda-tanda
bahwa disana ada emas. Akhirnya
ia putus asa dan menjual kembali
tanah itu kepada salah seorang
sahabatnya dengan harga sangat
murah.

Sahabatnya itu melanjutkan
penggalian. Beberapa hari kemudian,
ia menemukan "pintu" kawasan
emas yang luas sekali dengan
potensi kandungan emas yang
sangat luar biasa. Kekayaan datang
padanya, hanya beberapa saat
setelah Bill berhenti!

Sering kita juga menghadapi kisah
yang sama. Sebagai penjual, kita
sering berhenti tatkala udah 10
orang menolak proposal kita,
menolak produk dan jasa kita. Lalu
kita memutuskan bahwa memang
ini tidak mungkin berhasil. Padahal
kalau diteruskan pada orang
berikutnya, justru berhasil tanpa
kesulitan berarti.

Ya begitulah, penyakit sukses
paling berbahaya adalah terlalu
cepat berhenti, terlalu mudah
menyerah. Jika saja ini berhasil
kita atasi.. anda pasti sukses.
Apapun yang anda lakukan.

Suatu ketika seorang kakek
bertekad menyusuri teriknya
panas gurun sahara, ingin
menjumpai cucunya di seberang
gurun yang luas itu. Dengan bekal
seadanya ia terus berjalan. Saat
letih ia berhenti, istirahat dan
kemudian kembali melanjutkan
perjalanannya. Ia tahu kemana ia
akan pergi. Dan walaupun begitu
lama waktu yang harus ia tempuh,
toh akhirnya ia pasti sampai.
Asalkan ia jalan terus. Jatuh,
bangkit lagi. Jatuh lagi, ya bangkit
lagi.

JADILAH GURU YANG BAIK (Tujuh Hukum Mengajar)

John Milthon Gregory merupakan
penulis buku yang terkenal tentang
Tujuh Hukum Mengajar. Inilah
beberapa petunjuk yang perlu
dipersiapkan oleh seorang guru
yang baik.

Persiapkan bahan pelajaran dengan
mempelajarinya berulang-ulang.
Jangan mengandalkan bahwa kita
sudah pernah mempelajarinya
karena apa yang kita ketahui
dahulu pasti sebagian sudah
terhapus dari ingatan kita.
Carilah urutan yang logis dari tiap
bagian dalam pelajaran yang
dipersiapkan tersebut. Setiap
pelajaran selalu berangkat dari
pengertian-pengertian dasar yang
sederhana baru ke tingkat
pengertian yang tinggi. Pelajari
urut-urutan yang logis dari
pelajaran yang dipersiapkan
tersebut sampai terwujud suatu
pengertian yang dapat saudara
uraikan dengan kata-kata sendiri.
Carilah analogi atau ilustrasi untuk
mempermudah penjelasan fakta-
fakta dan prinsip-prinsip yang
sulit dimengerti oleh siswa.
Khususnya prinsip-prinsip abstrak.
Carilah hubungan antara apa yang
diajarkan dan kehidupan sehari-hari
siswa. Hubungan-hubungan inilah
yang akan menentukan nilai praktis
penerapan dari pelajaran itu.
Gunakan sebanyak mungkin sumber
referensi berupa buku-buku atau
bahan-bahan yang sesuai, tetapi
pahami dahulu sebaik-baiknya
sebelum menyampaikan kepada
siswa.
Harap diingat bahwa lebih baik
mengerti sedikit, tetapi benar-
benar mantap daripada mengetahui
banyak, tetapi kurang mendalam.
Sediakan waktu yang khusus untuk
mempersiapkan tiap pelajaran
sebelum berdiri di depan kelas.
Dengan persiapan matang, kita
akan semakin menguasai
pengetahuan dan gambaran apa
yang diajarkan akan semakin jelas.

Sumber: John Milthon Gregory.
Tujuh Hukum Mengajar

Hidup Jangan Tertidur!

Untuk dapat menikmati
hidup, hal terpenting
yang perlu Anda lakukan
adalah menjadi SADAR.
Inti kepemimpinan
adalah kesadaran.
Inti spiritualitas juga
adalah kesadaran.
Banyak orang yang
menjalani hidup ini
dalam keadaan
''''tertidur.''''
Mereka lahir, tumbuh,
menikah, mencari
nafkah, membesarkan
anak, dan akhirnya
meninggal dalam keadaan
''''tertidur.''''
Analoginya adalah
seperti orang yang
terkena hipnotis. Anda
tahu di mana menyimpan
uang. Anda pun tahu
persis nomor pin Anda.
Dan Andapun menyerahkan
uang Anda pada orang
tidak dikenal. Anda
tahu, tapi tidak sadar.
Karena itu, Anda
bergerak bagaikan robot-
robot yang dikendalikan
orang lain, lingkungan,
jabatan, uang, dan
harta benda.
Pengertian menyadari
amat berbeda dengan
mengetahui. Anda tahu
berolah raga penting
untuk kesehatan, tapi
Anda tidak juga
melakukannya. Anda tahu
memperjualbelikan
jabatan itu salah, tapi
Anda menikmatinya. Anda
tahu berselingkuh dapat
menghancurkan keluarga,
tapi Anda tidak dapat
menahan godaan. Itulah
contoh tahu tapi tidak
sadar!
Ada hal- hal yang dapat
membuat orang menjadi
sadar. Peristiwa-
peristiwa pahit dan
musibah. Musibah
sebenarnya adalah
''''rahmat
terselubung'''' karena
dapat membuat kita
bangun dan sadar. Anda
baru sadar pentingnya
kesehatan kalau Anda
sakit. Anda baru sadar
pentingnya olahraga
kalau kadar kolesterol
Anda mencapai tingkat
yang mengkhawatirkan.
Anda baru sadar
nikmatnya bekerja kalau
Anda di-PHK. Seorang
wanita karier baru
menyadari bahwa
keluarga jauh lebih
penting setelah anaknya
terkena narkoba.
Seorang sopir taksi
pernah bercerita bahwa
ia baru menyadari
bahayanya judi setelah
hartanya habis.
Kematian mungkin
merupakan satu stimulus
terbesar yang mampu
menyentakkan kita.
Banyak tokoh terkenal
meninggal begitu saja.
Mereka sedang sibuk
memperjualbelikan
kekuasaan, saling
menjegal, berjuang
meraih jabatan, lalu
tiba-tiba saja
meninggal. Bayangkan
kalau Anda sedang
menonton film di
bioskop. Pertunjukan
sedang berlangsung seru
ketika tiba-tiba
listrik padam. Petugas
bioskop berkata,
''''Silakan Anda
pulang, pertunjukan
sudah selesai!'''' Anda
protes, bahkan ingin
menunggu sampai listrik
hidup kembali. Tapi, si
penjaga hanya berkata
tegas, ''''Pertunjukan
sudah selesai,
listriknya tidak akan
pernah hidup
kembali.''''
Itulah analogi
sederhana dari
kematian. Kematian
orang yang kita kenal,
apalagi kerabat dekat
kita sering menyadarkan
kita pada arti hidup
ini. Kematian
menyadarkan kita pada
betapa singkatnya hidup
ini, betapa seringnya
kita meributkan hal-hal
sepele, dan betapa
bodohnya kita menimbun
kekayaan yang tidak
sempat kita nikmati.
Hidup ini seringkali
menipu dan
meninabobokan orang.
Untuk menjadi bangun
kita harus sadar
mengenai tiga hal,
yaitu siapa diri kita,
darimana kita berasal,
dan ke mana kita akan
pergi. Untuk itu kita
perlu sering mengambil
jarak dari kesibukan
kita dan melakukan
kontemplasi.
Ada sebuah ungkapan
menarik dari seorang
filsuf Perancis,
Teilhard de Chardin,
''''Kita bukanlah
manusia yang mengalami
pengalaman-pengalaman
spiritual, kita adalah
makhluk spiritual yang
mengalami pengalaman-
pengalaman
manusiawi.''''
Manusia bukanlah
''''makhluk bumi''''
melainkan ''''makhluk
langit.'''' Kita adalah
makhluk spiritual yang
kebetulan sedang
menempati rumah kita di
bumi. Tubuh kita
sebenarnya hanyalah
rumah sementara bagi
jiwa kita. Tubuh
diperlukan karena
merupakan salah satu
syarat untuk bisa hidup
di dunia. Tetapi, tubuh
ini lama kelamaan akan
rusak dan akhirnya
tidak dapat digunakan
lagi. Pada saat itulah
jiwa kita akan
meninggalkan
''''rumah'''' untuk
mencari ''''rumah''''
yang lebih layak.
Keadaan ini kita sebut
meninggal dunia. Jangan
lupa, ini bukan berarti
mati karena jiwa kita
tak pernah mati. Yang
mati adalah rumah kita
atau tubuh kita sendiri.
`Coba Anda resapi
paragraf diatas dalam-
dalam. Badan kita akan
mati, tapi jiwa kita
tetap hidup. Kalau Anda
menyadari hal ini, Anda
tidak akan menjadi
manusia yang ngoyo dan
serakah. Kita memang
perlu hidup, perlu
makanan, tempat
tinggal, dan kebutuhan
dasar lainnya. Bila
Anda sudah mencapai
semua kebutuhan
tersebut, itu sudah
cukup!
Buat apa sibuk
mengumpul-ngumpulkan
kekayaan -- apalagi
dengan menyalahgunakan
jabatan kalau hasilnya
tidak dapat Anda
nikmati selama-lamanya.
Apalagi Anda sudah
merusak jiwa Anda
sendiri dengan berlaku
curang dan korup.
Padahal, jiwa inilah
milik kita yang abadi.
Lantas, apakah kita
perlu mengalami sendiri
peristiwa-peristiwa
yang pahit tersebut
agar kita sadar?
Jawabnya: ya! Tapi
kalau Anda merasa cara
tersebut terlalu mahal,
ada cara kedua yang
jauh lebih mudah:
Belajarlah
MENDENGARKAN. Dengarlah
dan belajarlah dari
pengalaman orang lain.
Bukalah mata dan hati
Anda untuk mengerti,
mendengarkan, dan
mempertanyakan semua
pikiran dan paradigma
Anda. Sayang, banyak
orang yang mendengarkan
semata-mata untuk
memperkuat pendapat
mereka sendiri,
bukannya untuk
mendapatkan sesuatu
yang baru yang mungkin
bertentangan dengan
pendapat mereka
sebelumnya. Orang yang
seperti ini masih
tertidur danbelum
sepenuhnya bangun.
Arvan Pradiansyah,
penulis buku You Are A
Leader

10 GEJALA PIKUN MUDA

Penyakit pikun dini bisa
diperlambat perkembangannya dan
digeser 5 hingga 7 tahun.
10 besar gejala dini penyakit pikun
dapat diringkas sebagai berikut:
Pikun sekejap
Penderita seringkali lupa dalam
mengingat sesuatu hal, sesudahnya
tidak dapat mengingatnya lagi,
mungkin malah mengulangi
pertanyaan yang sama, dan telah
melupakan jawaban yang sudah
didengar.
Mengurusi yang depan, terlupakan
yang belakangan
Penderita bisa lupa telah
membawa nasi dan lauk ke atas
meja, bahkan telah melupakan nasi
dan lauk yang sudah dibuatnya.
Kalimat tidak memuat apa yang
hendak dikatakan
Barangkali kalimat sepele pun bisa
dilupakan oleh penderita, atau
tidak sanggup menggunakan
kalimat atau ungkapan yang pas
untuk disampaikan.
Konsepsi waktu dan lokasi kacau
Penderita kemungkinan tersesat di
jalan sekitar rumah atau tak
dapat menemukan pintu rumahnya.
Daya estimasinya menurun
Penderita ada kemungkinan sama
sekali lupa pada anak-anak yang
sedang diasuhnya dan ditinggal
pulang atau mudah sekali tertipu
orang.
Kemampuan berpikir abstrak hilang
Penderita seringkali lupa kode
nomer yang dirancangnya sendiri,
jumlah saldo uang di bank pun
telah lupa tuntas.
Sembarangan membuang barang
Penderita biasanya meletakkan
barang di tempat yang tidak pas,
atau menaruh banyak barang
bekas seperti kertas afkiran,
potongan kain dan lain-lain yang
disimpannya bagaikan benda pusaka.
Sifat dan kelakuan berubah tak
menentu
Di dalam kurun waktu yang
pendek, bisa jadi perilaku dan
emosi kondisi semula tenang,
berubah menjadi berlinang air mata.
Perubahan karakter
Karakter sipenderita mungkin bisa
berubah menjadi drastis yang
tidak masuk akal, seperti takut
setan, mencurigai orang dan lain
sebagainya.
Kehilangan daya inisiatif
Sering berubah menjadi malas
dibandingkan sebelumnya, tidak mau
mengikuti segala kegiatan, bahkan
juga terhadap kegiatan yang
biasanya ia sukai. Serta acuh tak
acuh terhadap orang lain

Efek Kata-Kata

Tulisan ini saya kutip dari sebuah
mailing list. Barangkali bagus juga
untuk kita renungkan. Terima kasih.

--
Sebaiknya kita semua mulai
mengendalikan kata-kata yang
keluar dari mulut kita dengan kata-
Kata yang Positif dan Baik.

Setelah mendengarkan info
tentang pengaruh Kata-Kata
Negatif terhadap Air yang ditulis
dalam buku " The Hidden Messages
in Water" karya Masaru Emoto
dan pada halaman 31 buku
tersebut disebutkan tentang
banyaknya orang yg melakukan
percobaan, sayapun tertarik untuk
melakukannya sbb:

Tempatkan Nasi sisa yg sudah
didiamkan semalaman kedalam 2
toples dengan jumlah yang sama,
kemudian ditutup rapat.

Masing-masing toples di tempelin
label yang berisi kata-kata sbb:

Toples A : "Kamu Pintar, Cerdas,
Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku
Sayang Padamu, Aku Senang Sekali
Melihatmu, Aku Ingin Selalu di
dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih.
Toples B : " Kamu Bodoh, Goblok,
Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku
Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak
mau dekat dekat kamu"

Botol-botol ini saya letakkan
terpisah dan pada tempat yg
sering dilihat, saya pesan pada
istri, anak, dan pembantu untuk
membaca label pada botol
tersebut setiap kali melihat botol-
botol tersebut.

Dan inilah yang terjadi pada nasi
tersebut setelah 1 minggu
kemudian :

Nasi dalam botol yg di bacakan
kata-kata Negatif ternyata cepat
sekali berubah menjadi busuk dan
berwarna hitam dengan bau yang
tidak sedap.

Sedangkan Nasi dalam botol yg di
bacakan kata-kata Positif masih
berwarna putih kekuningan dan
baunya harum seperti ragi.

Nah Silahkan teman-teman
mencobanya sendiri.

Di buku juga di katakan ada yang
mencoba dengan tiga botol dimana
botol ketiga tidak di beri label apa-
apa, alias diabaikan / tidak
diperdulikan. Ternyata beras dalam
botol yg diabaikan membusuk jauh
lebih cepat dibandingkan botol yang
dipapar kata " Kamu Bodoh".

Bayangkan apa yang akan terjadi
dengan anak-anak kita, pasangan
hidup kita, rekan-rekan kerja kita,
dan orang-orang disekeliling kita,
bahkan binatang dan tumbuhan
disekeliling kita pun akan
merasakan efek yang ditimbulkan
dari getaran-getaran yg berasal
dari pikiran, dan ucapan yang kita
lontarkan setiap saat kepada
mereka.

Maka sebaiknya selalulah sadar dan
bijaksana dalam memillih kata-kata
yg akan keluar dari mulut kita,
demikian juga kendalikanlah pikiran-
pikiran yg timbul dalam batin kita.

Semoga bermanfaat

Buang Kata "Tetapi"

Apakah anda sering mengalami
hambatan dalam menemukan
makna kehidupan? Anda tahu apa
yang Anda inginkan, namun sayang
ada pula rintangan yang
menghambat.

Berikut ini ada latihan menarik
yang diajarkan Daniel H. Pink dalam
bukunya A Whole New Mind.
Katanya, coba tuliskan apa saja
perubahan-perubahan penting yang
ingin Anda buat, dan tuliskan pula
penghalangnya.

Misalnya:

Saya ingin menghabiskan banyak
waktu dengan keluarga saya,
tetapi saya banyak bepergian
dalam pekerjaan saya.

Saya ingin lebih sering membaca,
tetapi saya jarang punya waktu
untuk bisa duduk dengan buku di
tangan.

Kata Daniel: gantilah kata "tetapi"
tersebut dengan "dan".

contoh:

Saya akan lebih menghabiskan
waktu dengan keluarga saya, dan
saya banyak bepergian dalam
pekerjaan saya. Maka, saya perlu
menemukan cara-cara untuk
membawa keluarga saya bersama
selama perjalanan saya.

Saya akan banyak membaca, dan
saya jarang sekali mempunyai
waktu untuk bisa duduk dengan
buku di tangan. Maka saya perlu
merekam buku-buku tsb sehingga
saya dapat mendengarnya di dalam
mobil atau di tempat olah raga.

Menukar kata "tetapi" menjadi
"dan" intinya adalah memindahkan
cara kita yang terbiasa dalam pola
pembuatan alasan, masuk ke pola
pemecahan masalah.

Sederhana sekali ya

Berfikir yang cerdik

"Meskipun anda bukanlah seorang
jenius, anda dapat mengunakan
strategi yang sama seperti yang
digunakan Aristotle dan Einstein
untuk memanfaatkan kreatifitas
berpikir anda dan mengatur masa
depan anda lebih baik."

Kedelapan statregi berikut ini
dapat mendorong cara berpikir
anda lebih produktif daripada
reproduktif untuk memecahkan
masalah-masalah. "Strategi-
strategi ini pada umumnya ditemui
pada gaya berpikir bagi orang-
orang yang jenius dan kreatif di
ilmu pengetahuan, kesenian, dan
industri-industri sepajang sejarah."

1. Lihatlah persoalan
anda dengan berbagai
cara yang berbeda dan
cari perspektif baru
yang belum pernah
dipakai oleh orang lain
(atau belum diterbitkan!
)

Leonardo da Vinci percaya bahwa
untuk menambah pengetahuan
tentang suatu masalah dimulai
dengan mempelajari cara menyusun
ulang masalah tersebut dengan
berbagai cara yang berbeda. Ia
merasa bahwa pertama kali
melihat masalah itu terlalu
prubasangka. Seringkali, masalah
itu dapat disusun ulang dan
menjadi suatu masalah yang baru.

2. Bayangkan!

Ketika Einstein memikirkan suatu
masalah, ia selalu menemukan
bahwa perlu untuk merumuskan
persoalannya dalam berbagai cara
yang berbeda-beda yang masuk
akal, termasuk menggunakan
diagram-diagram. Ia
membayangkan solusi-solusinya dan
yakin bahwa kata-kata dan angka-
angka tidak memegang peran
penting dalam proses berpikirnya.

3. Hasilkan!
Karakteristik anak
jenius yang membedakan
adalah produktivitas.

Thomas Edison memegang 1.093
paten. Dia memberikan jaminan
produktivitas dengan memberikan
ide-ide pada diri sendiri dan
asistennya. Dalam studi dari 2.036
ilmuwan sepanjang sejarah, Dekan
Keith Simonton, dari University of
California di Davis, menemukan
bahwa ilmuwan-ilmuwan yang
dihormati tidak hanya menciptakan
banyak karya-karya terkenal, tapi
banyak yang buruk. Mereka tidak
takut gagal, atau membuat
kesalahan besar untuk meraih hasil
yang hebat.

4. Buat kombinasi-
kombinasi baru.
Kombinasikan, and
kombinasikan ulang, ide-
ide, bayangan-bayangan,
and pikiran-pikiran ke
dalam kombinasi yang
berbeda, tidak peduli
akan keanehan atau
ketidakwajaran.

Keturunan hukum-hukum yang
menjadi dasar ilmu genetika
modern berasal dari pendeta
Austria, Grego Mendel, yang
mengkombinasikan matematika dan
biologi untuk menciptakan ilmu
pengetahuan baru.

5. Bentuklah hubungan-
hubungan; buatlah
hubungan antara
peroalan-persoalan yang
berbeda

Da Vinci menemukan hubungan
antara suara bel dan sebuah batu
yang jatuh ke dalam air. Hal ini
memungkinkan Da Vinci untuk
membuat hubungan bahwa suara
mengalir melalui gelombang-
gelombang. Samuel Morse
menciptakan stasiun-stasiun
penghubung untuk tanda-tanda
telegraf ketika memperhatikan
stasiun-stasiun penghubung untuk
kuda-kuda.

6. Berpikir secara
berlawanan.

Ahli ilmu fisika Niels Bohr percaya
bahwa jika andamemegang
pertentangan secara bersamaan,
kemudian anda menyingkirkan
pikiran anda dan akal anda
bergerak menuju tingkatan yang
baru. Kemampuannya untuk
membayangkan secara bersamaan
mengenai suatu partikel dan suatu
gelombang mengarah pada
konsepsinya tentang prinsip saling
melengkapi. Dengan menyingkirkan
pikiran (logis) dapat memungkinkan
akal anda untuk menciptakan
sesuatu yang baru.

7. Berpikir secara
metafor.

Aristotle menganggap metafora
sebagai tanda yang jenius, dan
percaya bahwa individual yang
memiliki kapasitas untuk menerima
persamaan antara dua keberadaan
yang berbeda dan
menghubungkannya adalah individual
yang punya bakat kusus.

8. Persiapkan diri anda
untuk menghadapi
kesempatan.

Bilamana kita mencoba sesuatu
dan gagal, kita akhirnya
mengerjakan sesuatu yang lain. Hal
ini adalah prinsip pertama dari
kekreatifan. Kegagalan dapat
menjadi produktif hanya jika kita
tidak terfokus pada satu hal
sebagai suatu hasil yang tidak
produktif. Sebaliknya, menganalisa
proses, komponen-kompnen dan
bagaimana anda dapat
mengubahnya untuk memperoleh
hasil yang lain. Jangan bertanya,
?Mengapa saya gagal?? melainkan
?Apa yang telah saya lakukan??

Diadaptasi dengan seijin: Michalko,
Michael, Thinking Like a
Genius: Eight
strategies used by the
super creative, from
Aristotle and Leonardo
to Einstein and Edison (
New Horizons for Learning)
seperti yang dilihat dari
http://www.newhorizons.org/ww
art_michalko1.html, (June 15, 1999)
Artikel ini pertama kali diterbitkan
di THE FUTURIST, May 1998

Michael Michalko adalah pengarang
buku Thinkertoys (A Handbook
of Business Creativity),
ThinkPak (A Brainstorming Card
Set), dan Cracking
Creativity: The Secrets
of Creative Geniuses
(Ten Speed Press, 1998).

Benarkah Kita Sudah Mengenal Diri Sendiri?

Di lingkungan kita, banyak orang
yang mengaku mengenal dirinya
sendiri. Padahal apa yang diketahui
tentang dirinya
itu berbeda dengan pemahaman
orang yang melihatnya sehari-hari.
Mengapa hal seperti itu bisa
bahkan sering terjadi? Siapakah
diri kita?
Pada hakikatnya semakin yang kita
ceritakan tentang diri kita sama
dengan apa yang orang lain dengar
itu berarti kita semakin mengenal
diri kita, semakin banyak yang
berbeda berarti kita tidak
mengenal diri kita. Baik yang
menilai dirinya terlalu tinggi
maupun terlalu rendah, keduanya
tidak sesuai kenyataan dan itu
berarti jelek. Hal ini secara mental
atau psikologis tidak sehat. Orang
yang selalu pakai kedok akan
capek, lalu memberikan stres yang
besar pada diri sendiri.
Dalam psikologi ada konsep yang
disebut Johari Window atau
Jendela Johari, yang
menggambarkan pengenalan diri
kita. Ada empat jendela dalam
Jendela Johari.
(1) Jendela terbuka. Hal-hal yang
kita tahu tentang diri sendiri, tapi
orang lain pun tahu. Misalnya
keadaan fisik, profesi, asal daerah,
dan lain-lain.
(2) Jendela tertutup. Hal-hal
mengenai diri kita yang kita tahu
tapi orang lain tidak tahu.
Misalnya isi perasaan, pendapat,
kebiasaan tidur, dan sebagainya.
(3) Jendela buta. Hal-hal yang kita
tidak tahu tentang diri sendiri,
tapi orang lain tahu. Misalnya hal-
hal yang bernilai positif dan
negatif pada kepribadian kita.
(4) Jendela gelap. Hal-hal mengenai
diri kita, tapi kita sendiri maupun
orang lain tidak tahu. Ini adalah
wilayah misteri dalam kehidupan.
Semakin besar daerah/jendela
terbuka kita akan semakin baik,
karena berarti kita mengenal diri
secara baik. Orang yang memiliki
daerah tertutup lebih besar akan
mengalami kesulitan dalam
pergaulan. Adapun mereka yang
memiliki daerah buta sangat besar,
bisanya akan membuat orang lain
merasa kasihan.
Ada dua cara untuk membuat
jendela kita terbuka lebar, yaitu:
1. Bersedia menerima umpan balik,
secara verbal maupun non-verbal.
a. Bersedialah untuk menerima
kritik, saran dan pendapat dari
orang lain tentang diri kita. Kalau
ada orang yang memberikan kritik
sangat pedas, ada baiknya dikaji.
Jika merasa tidak benar, tanyakan,
mengapa dia mengungkapkan hal
itu, cari klarifikasi, dan bukan
membalas menghajarnya atau
mengkritik balik. Kritik adalah
bentuk umpan balik yang berisi
informasi negatif tentang diri
kita, yang mungkin kita anggap
kelemahan. Harusnya kritik itu
berisi saran, karena kritik itu
berarti menunjukkan kesalahan dan
harus bisa memberitahu bagaimana
jalan keluarnya
b. Kita juga harus mau lebih
membuka diri. Ungkapkan kalau ada
uneg-uneg, kekesalan, kejengkelan
dan sebagainya. Bisa lisan bisa
tertulis harus diungkapkan terus
terang. Bisa juga kita membuka
kekuatan
Diterbitkan di: Nopember 19
, 2009
Link yang relevan :
http://kesehatan.kompas.com/re
ad/xml/2009/11/11/09251851
/Benarkah...
http://www.untukku.com/artikel-
untukku/benarkah-kita-sudah-
mengen...
http://www.indonesiaindonesia.c
om/f/50731-mengenal/

Bagaimana kebiasaan itu terbentuk?

Seekor gajah dilatih dengan
mengambilnya sejak ia masih
sangat muda dan merantai salah
satu kaki belakangnya pada sebuah
patok besar yang ditancapkan di
tanah. Secara naluri, ia ingin
mencabut tiang tersebut. Tetapi
karena tubuhnya masih kecil dan
relatif lemah, ia tidak mampu
melakukannya.

Setiap kali gajah kecil itu mencoba
menarik patok itu dari tanah,
sebuah sel saraf (atau sel otak)
di kepalanya menyala dan
terhubung dengan sel saraf yang
lain, dan sebuah pikiran/kesimpulan
dasar "aku tidak bisa" terbentuk -
dalam hal ini, "aku tidak bisa
menarik patok ini dari tanah!"

Ketika proses ini terjadi untuk
pertama kalinya, "pikiran" tersebut
hampir-hampir dipaksa untuk
memicu terjadinya hubungan antar
sel-sel otak. Namun, ketika gajah
itu mencoba mencabut pancang
dari tanah untuk kedua kalinya,
dan sel saraf itu menyala, lintasan
samar-samar yang telah tercipta
membuat hubungan antar sel
menjadi lebih mudah.

Akibatnya, semakin keras upaya
gajah tersebut, semakin kuat pula
hubungan yang terbentuk, sampai
kemudian jalan setapak itu
berubah menjadi jalan, dan
kemudian menjadi jalan dua arah.

Akhirnya, tiba saatnya ketika
hubungan antar sel-sel saraf itu
hampir mirip dengan jalan tol;
sekarang ia menjadi jalan yang
hampir-hampir bebas hambatan
dan menjadi kebiasaan dan
keyakinan yang dikondisikan.

Ketika si gajah sudah tumbuh
dewasa dan mampu mencabut
sebatang pohon, ia dicegah agar
tidak berjalan-jalan hanya dengan
mengikatnya dengan sepotong
rantai biasa yang dikaitkan ke
sebuah patok kecil di atas tanah.
Hanya itu yang dibutuhkan karena
gajah tersebut sudah dikondisikan
untuk percaya bahwa ia tidak
dapat mencabut patok itu dari
tanah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
~@~Sahabat yang sejati adalah orang yang dapat berkata benar kepada anda, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata anda~@~Naluri berbicara kita akan mencintai yang memuja kita, tetapi tidak selalu mencintai yang kita puja~@~Seseorang yang oprimis akan melihat adanya kesempatan dalam setiap malapetaka, sedangkan orang pesimis melihat malapetaka dalam setiap kesempatan~@~Orang besar bukan orang yang otaknya sempurna tetapi orang yang mengambil sebaik-baiknya dari otak yang tidak sempurna~@~Memperbaiki diri adalah alat yang ampuh untuk memperbaiki orang lain~@~Cinta akan menggilas setiap orang yang mengikuti geraknya, tetapi tanpa gilasan cinta, hidup tiada terasa indah~@~Dalam perkataan, tidak mengapa anda merendahkan diri, tetapi dalam aktivitas tunjukkan kemampuan Anda~@~Tegas berbeda jauh dengan kejam. Tegas itu mantap dalam kebijaksana sedangkan kejam itu keras dalam kesewenang-wenangan~@~Watak keras belum tentu bisa tegas, tetapi lemah lembut tak jarang bisa tegas~@~Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun~@~Kita semua hidup dalam ketegangan, dari waktu ke waktu, serta dari hari ke hari; dengan kata lain, kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri~@~Istilah tidak ada waktu, jarang sekali merupakan alasan yang jujur, karena pada dasarnya kita semuanya memiliki waktu 24 jam yang sama setiap harinya. Yang perlu ditingkatkan ialah membagi waktu dengan lebih cermat~@~