WELCOME

SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI MOECHTAR EL-NAOEMI, SILAHKAN ANDA MEMBACA-BACA ARTIKEL YANG ANDA SUKA, TAPI JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK ANDA/COMENT POSITIF YANG UNTUK KAMI SANGAT BERARTI . . . . THANKS YOUR VISITED SELAMAT MEMBACA ! ! ! !
English Arabic French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

Selasa, 09 Februari 2010

Hidup Jangan Tertidur!

Untuk dapat menikmati
hidup, hal terpenting
yang perlu Anda lakukan
adalah menjadi SADAR.
Inti kepemimpinan
adalah kesadaran.
Inti spiritualitas juga
adalah kesadaran.
Banyak orang yang
menjalani hidup ini
dalam keadaan
''''tertidur.''''
Mereka lahir, tumbuh,
menikah, mencari
nafkah, membesarkan
anak, dan akhirnya
meninggal dalam keadaan
''''tertidur.''''
Analoginya adalah
seperti orang yang
terkena hipnotis. Anda
tahu di mana menyimpan
uang. Anda pun tahu
persis nomor pin Anda.
Dan Andapun menyerahkan
uang Anda pada orang
tidak dikenal. Anda
tahu, tapi tidak sadar.
Karena itu, Anda
bergerak bagaikan robot-
robot yang dikendalikan
orang lain, lingkungan,
jabatan, uang, dan
harta benda.
Pengertian menyadari
amat berbeda dengan
mengetahui. Anda tahu
berolah raga penting
untuk kesehatan, tapi
Anda tidak juga
melakukannya. Anda tahu
memperjualbelikan
jabatan itu salah, tapi
Anda menikmatinya. Anda
tahu berselingkuh dapat
menghancurkan keluarga,
tapi Anda tidak dapat
menahan godaan. Itulah
contoh tahu tapi tidak
sadar!
Ada hal- hal yang dapat
membuat orang menjadi
sadar. Peristiwa-
peristiwa pahit dan
musibah. Musibah
sebenarnya adalah
''''rahmat
terselubung'''' karena
dapat membuat kita
bangun dan sadar. Anda
baru sadar pentingnya
kesehatan kalau Anda
sakit. Anda baru sadar
pentingnya olahraga
kalau kadar kolesterol
Anda mencapai tingkat
yang mengkhawatirkan.
Anda baru sadar
nikmatnya bekerja kalau
Anda di-PHK. Seorang
wanita karier baru
menyadari bahwa
keluarga jauh lebih
penting setelah anaknya
terkena narkoba.
Seorang sopir taksi
pernah bercerita bahwa
ia baru menyadari
bahayanya judi setelah
hartanya habis.
Kematian mungkin
merupakan satu stimulus
terbesar yang mampu
menyentakkan kita.
Banyak tokoh terkenal
meninggal begitu saja.
Mereka sedang sibuk
memperjualbelikan
kekuasaan, saling
menjegal, berjuang
meraih jabatan, lalu
tiba-tiba saja
meninggal. Bayangkan
kalau Anda sedang
menonton film di
bioskop. Pertunjukan
sedang berlangsung seru
ketika tiba-tiba
listrik padam. Petugas
bioskop berkata,
''''Silakan Anda
pulang, pertunjukan
sudah selesai!'''' Anda
protes, bahkan ingin
menunggu sampai listrik
hidup kembali. Tapi, si
penjaga hanya berkata
tegas, ''''Pertunjukan
sudah selesai,
listriknya tidak akan
pernah hidup
kembali.''''
Itulah analogi
sederhana dari
kematian. Kematian
orang yang kita kenal,
apalagi kerabat dekat
kita sering menyadarkan
kita pada arti hidup
ini. Kematian
menyadarkan kita pada
betapa singkatnya hidup
ini, betapa seringnya
kita meributkan hal-hal
sepele, dan betapa
bodohnya kita menimbun
kekayaan yang tidak
sempat kita nikmati.
Hidup ini seringkali
menipu dan
meninabobokan orang.
Untuk menjadi bangun
kita harus sadar
mengenai tiga hal,
yaitu siapa diri kita,
darimana kita berasal,
dan ke mana kita akan
pergi. Untuk itu kita
perlu sering mengambil
jarak dari kesibukan
kita dan melakukan
kontemplasi.
Ada sebuah ungkapan
menarik dari seorang
filsuf Perancis,
Teilhard de Chardin,
''''Kita bukanlah
manusia yang mengalami
pengalaman-pengalaman
spiritual, kita adalah
makhluk spiritual yang
mengalami pengalaman-
pengalaman
manusiawi.''''
Manusia bukanlah
''''makhluk bumi''''
melainkan ''''makhluk
langit.'''' Kita adalah
makhluk spiritual yang
kebetulan sedang
menempati rumah kita di
bumi. Tubuh kita
sebenarnya hanyalah
rumah sementara bagi
jiwa kita. Tubuh
diperlukan karena
merupakan salah satu
syarat untuk bisa hidup
di dunia. Tetapi, tubuh
ini lama kelamaan akan
rusak dan akhirnya
tidak dapat digunakan
lagi. Pada saat itulah
jiwa kita akan
meninggalkan
''''rumah'''' untuk
mencari ''''rumah''''
yang lebih layak.
Keadaan ini kita sebut
meninggal dunia. Jangan
lupa, ini bukan berarti
mati karena jiwa kita
tak pernah mati. Yang
mati adalah rumah kita
atau tubuh kita sendiri.
`Coba Anda resapi
paragraf diatas dalam-
dalam. Badan kita akan
mati, tapi jiwa kita
tetap hidup. Kalau Anda
menyadari hal ini, Anda
tidak akan menjadi
manusia yang ngoyo dan
serakah. Kita memang
perlu hidup, perlu
makanan, tempat
tinggal, dan kebutuhan
dasar lainnya. Bila
Anda sudah mencapai
semua kebutuhan
tersebut, itu sudah
cukup!
Buat apa sibuk
mengumpul-ngumpulkan
kekayaan -- apalagi
dengan menyalahgunakan
jabatan kalau hasilnya
tidak dapat Anda
nikmati selama-lamanya.
Apalagi Anda sudah
merusak jiwa Anda
sendiri dengan berlaku
curang dan korup.
Padahal, jiwa inilah
milik kita yang abadi.
Lantas, apakah kita
perlu mengalami sendiri
peristiwa-peristiwa
yang pahit tersebut
agar kita sadar?
Jawabnya: ya! Tapi
kalau Anda merasa cara
tersebut terlalu mahal,
ada cara kedua yang
jauh lebih mudah:
Belajarlah
MENDENGARKAN. Dengarlah
dan belajarlah dari
pengalaman orang lain.
Bukalah mata dan hati
Anda untuk mengerti,
mendengarkan, dan
mempertanyakan semua
pikiran dan paradigma
Anda. Sayang, banyak
orang yang mendengarkan
semata-mata untuk
memperkuat pendapat
mereka sendiri,
bukannya untuk
mendapatkan sesuatu
yang baru yang mungkin
bertentangan dengan
pendapat mereka
sebelumnya. Orang yang
seperti ini masih
tertidur danbelum
sepenuhnya bangun.
Arvan Pradiansyah,
penulis buku You Are A
Leader

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kami tunggu kritik dan saran yang membangun dari anda !!!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
~@~Sahabat yang sejati adalah orang yang dapat berkata benar kepada anda, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata anda~@~Naluri berbicara kita akan mencintai yang memuja kita, tetapi tidak selalu mencintai yang kita puja~@~Seseorang yang oprimis akan melihat adanya kesempatan dalam setiap malapetaka, sedangkan orang pesimis melihat malapetaka dalam setiap kesempatan~@~Orang besar bukan orang yang otaknya sempurna tetapi orang yang mengambil sebaik-baiknya dari otak yang tidak sempurna~@~Memperbaiki diri adalah alat yang ampuh untuk memperbaiki orang lain~@~Cinta akan menggilas setiap orang yang mengikuti geraknya, tetapi tanpa gilasan cinta, hidup tiada terasa indah~@~Dalam perkataan, tidak mengapa anda merendahkan diri, tetapi dalam aktivitas tunjukkan kemampuan Anda~@~Tegas berbeda jauh dengan kejam. Tegas itu mantap dalam kebijaksana sedangkan kejam itu keras dalam kesewenang-wenangan~@~Watak keras belum tentu bisa tegas, tetapi lemah lembut tak jarang bisa tegas~@~Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun~@~Kita semua hidup dalam ketegangan, dari waktu ke waktu, serta dari hari ke hari; dengan kata lain, kita adalah pahlawan dari cerita kita sendiri~@~Istilah tidak ada waktu, jarang sekali merupakan alasan yang jujur, karena pada dasarnya kita semuanya memiliki waktu 24 jam yang sama setiap harinya. Yang perlu ditingkatkan ialah membagi waktu dengan lebih cermat~@~