Selalu demikian di bulan ini. Hujan benar-
benar mewarnai hari. Sore. Ya,
pukul empat lebih, hujan seperti
pantulan manik-manik kaca
menderas seketika dengan
anggunnya. Aku menyesal,
sumur di luar pasti akan keruh
lagi airnya, mestinya diberi atap
nanti. Hujan. Aku duduk di sini,
dekat jendela kaca
memerhatikan curahan air yang
mengguyur serentak dari udara.
Seperti apakah bunyinya? Di
atas atap, di dedaunan, di
tanah becek, bahkan di kolam
ikan yang berderet nun di luar?
Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali
gelegar petir yang menghantam
bumi. Ya, hanya itu yang
kurasakan. Aku ingat kamu. Aku
suka hujan, aku suka
suasananya yang begitu
kontemplatif. Kurasakan
ekstase tertentu jika hujan.
Memberiku inspirasi untuk
menulis puisi. Bahkan juga
menulis surat untukmu dalam
suasana hujan kupikir cukup
romantis, meski isinya
terkadang bernada humor yang
ironis. Aku rindu suratmu. Yang
selalu hangat dan
menggembirakan, simpel dan
terkadang menggetarkan.
Namun mungkin kamu sudah
kecewa dengan kenyataan yang
kuungkapkan dalam suratku
yang barusan kukirimkan.
Mungkin kamu kebingungan dan
terpaksa bertanya pada orang
yang kebetulan pernah bertemu
denganku, entah Mas Herwan
FR atau Agus Kresna, meski ada
yang merasa tak berhak untuk
mengatakan apa-apa karena
aku sudah memintanya agar
jangan dulu mengabarkan
kehadiranku pada orang-orang
untuk suatu alasan. Dan
rentetan kemungkinan lainnya
mengendap dalam benakku.
Namun aku harap kamu benar-
benar cukup dewasa untuk
menerima realita dalam hidup
yang penuh ketakterdugaan.
Aku kesepian. Apa yang
kulakukan. Duduk di kursi
sembari mengangkat kaki, dan
di rumah hanya ada aku sendiri.
Aku membayangkan kamu.
Sosok yang tak pernah kutemui.
Hanya foto yang kamu kirimkan
melengkapi imajinasi: seorang
lelaki gondrong yang menarik,
dan merasa dirinya secara
psikologis sudah dewasa dalam
usia 23 tahun. Heran, di luar
belasan burung entah apa
namanya berseliweran dalam
guyuran hujan begini, apa yang
mereka cari? Barangkali kamu
lebih tahu ekologi dan mau
berteori? Aku kedinginan. Aliran
listrik padam. Barangkali segelas
teh manis panas bisa
menghangatkan tubuhku.
Apakah di Bandung saat ini
sedang hujan juga, dan kamu
tengah bagaimana? Mengisap A
Mild ditemani secangkir kopi
panas? Menulis puisi, cerpen,
esai, surat, atau tugas mata
kuliah? Di kampus, di rumah,
atau di suatu tempat entah?
Membaca diktat, buku tertentu,
karya sastra, atau komik? Di
depan monitor komputer,
mengobrol, atau nonton TV?
Mendengarkan The Doors atau
Ebiet G. Ade? Tidur atau makan?
Salat Asar atau menggigil
kehujanan? Atau mengguyur
badan di kamar mandi? Atau
tak melakukan apa-apa sama
sekali? Cuma Tuhan yang tahu.
Relasi yang aneh, katamu,
karena lewat surat. Lalu kamu
menyuruhku belajar internet
biar bisa bikin e-mail dan tak
perlu ke perpustakaan
konvensional. Dan kamu janji
akan mengajariku jika nanti
bertemu. Bertemu. Aku juga
ingin bertemu kamu. Namun
untuk apa? Adakah makna dari
pertemuan itu? Kubayangkan
kamu sebagai Indra, temanku,
yang membagi dunia lewat
tangannya. Namun apa kamu
bisa bahasa isyarat sederhana
cara abjad? Kamu kecewa
karena aku tuli? Apakah dalam
surat pertamaku aku harus
memberitahu siapa diriku secara
mendetail? Aku telah mengambil
risiko. Begitu pun kamu. Risiko
untuk merelasi diri dan
berinteraksi dengan orang
asing. Sebuah silaturahmi yang
kumulai, haruskah berakhir sia-
sia? Aku berusaha menerima
diriku sebagaimana adanya dan
menjadi orang biasa, meski aku
tahu orang-orang di sekitarku
kecewa. Keluarga, teman-
teman, sahabat dekat, sampai
siapa saja yang memang merasa
harus kecewa. Bertahun-tahun,
ada belasan tahun mungkin,
sejak usiaku 16 tahun sampai
25 tahun, kujalani hari dengan
sunyi, sebuah dunia tanpa bunyi-
bunyi. Bisakah kamu
bayangkan? Ah, aku tak akan
bisa mendengar permainan
harmonikamu, lalu
membandingkannya dengan
permainan harmonika abangku.
Atau denting gitarmu dengan
Eric Clapton. Atau bagaimana
suatu melodi tercipta dari puisi.
Aku juga tak akan tahu warna
suaramu saat memusikalisasikan
puisi, berdeklamasi, menyanyi,
tadarus, berperan dalam lakon
teater, atau bicara biasa saja.
Kamu masih ingat, dalam salah
satu suratmu, kamu menulis:
Setting: Kamar, 141000 - 21.20
WIB, Dewa 19 - Terbaik-terbaik.
Gurun yang baik. Barangkali
sekaranglah saatnya! Lalu kamu
membiarkan selembar halaman
kertas itu kosong. Aku mengerti
artinya, kamu ingin aku
memutar lagu tersebut, dan
membiarkan Terbaik-terbaik
bicara. Sesuatu yang tengah
menggambarkan suasana hatimu
saat itu? Sayang, aku tak bisa
melakukannya. Kata teman-
teman, lagu itu tentang cinta
dan persahabatan. Kurasa aku
harus bertanya pada Rie, Indra,
atau Nana; apa ada yang punya
teksnya? Ironis, bukan?
Tampaknya kamu senang
menulis dengan diiringi musik.
Aku iri padamu. Karena aku ingin
tahu juga seperti apa indahnya
musik klasik itu, entah Mozart
yang kata Indra melankolis;
atau Chopin di masa silam,
gumam Cecep Syamsul Hari
dalam puisi Meja Kayu yang
kembali muram-surealis, menulis
lagu pedih tentang hujan2; atau
tahu di mana letak jeniusnya
Beethoven yang mencipta
komposisi meski tuli; dan bisa
mengerti mengapa ayahku
sangat menyukai musik klasik
selain country. Aku rindu bunyi
gamelan, dan ingin kembali
belajar menari. Entah jaipong
Jugala, tari klasik Jawa, atau
mungkin sendratari seperti
yang sering kusaksikan di TVRI
waktu kecil dulu. Aku ingin
berperan sebagai Drupadi atau
Srikandi, perpaduan antara
kelembutan dan keperkasaan.
Kamu lebih suka karakter Bima?
Aku suka karakter Yudistira, ia
satu-satunya yang (hampir)
berhasil mencapai puncak
Mahameru sementara saudara-
saudaranya satu per satu
berguguran. Kamu tahu artinya,
kan? Aku lupa penggalan kisah
ini dari komik wayang R.A.
Kosasih atau majalah Ananda --
yang pernah kita baca waktu
kanak-kanak dulu, meski
mungkin dalam dimensi yang
berbeda. Sudahlah, setidaknya
aku bisa tahu minatmu, dan
kamu tahu minatku. Aku tak
tahu banyak tentang musik,
padahal kamu pasti asyik sendiri
dengan The Corrs, Dewa, Kubik,
Jim Morrison, bahkan juga Jimi
Hendrix. Mengapa sih dalam
cerpenmu yang barusan dimuat
koran, kamu menulis soal Jimi
Hendrix dan Jim Morrison? Itu
mengingatkanku pada Abuy
teman SMU-ku yang sangat
mengidolakan mereka dan
senang cerita soal itu padaku,
seolah merekalah yang bisa
meluapkan kegelisahan
terpendamnya yang liar menuju
muara kebebasan. Lucu, adakah
orang tuli yang begitu besar
rasa ingin tahunya tentang
sesuatu yang tak mungkin bisa
dirasakan. Katakan aku aneh.
Aku memang orang aneh. Namun
aku juga berharap bisa tahu
lebih banyak tentang Iqbal,
Rumi, Camus, Dylan, Gibran,
Cummings, Malna, sampai
Rendra. Ya, itu jika kita
bertemu. Mungkinkah itu?
Tempias hujan tidak deras lagi,
namun kesedihan itu masih
menghantam ruang terdalam.
Aku butuh kawan. Kamukah
orangnya? Tidak, kamu mungkin
sudah berharap agar aku jadi
seseorang yang ke lima setelah
kamu kecewa dengan sekian
perempuan yang masuk dalam
hidupmu, meski itu terlalu dini
karena kita baru tiga kali saling
menyurati. Semudah itukah
hatimu terpaut, atau kamu
cuma ingin mengujiku? Tidak.
Aku tak berharap apa-apa
darimu. Aku hanya ingin jadi
kawanmu. Kawan biasa. Bukan
pacar. Meski aku juga ingin
punya pacar, sebagaimana
perempuan kebanyakan.
Seseorang yang membuatku
jatuh cinta sungguhan.
Seseorang yang mencintaiku
apa adanya. Seseorang di mana
bisa berbagi dunia. Naifkah?
Hujan. Aku kembali memandang
ke luar jendela kaca. Di sana
gunung begitu dekat dengan
latar pepohonan seperti
hamparan permadani hijau
kebiruan, dan kabut yang
mengental; terasa beku dalam
pelukan kegaiban-Nya. Ya
Tuhan, barusan kulihat kilatan
petir membelah langit desa di
sebelah utara. Subhanallah,
indah sekali bentuknya; kilatan
warna perak yang abstrak
dengan latar kelabu. Aku
membayangkan bagaimana
seandainya jika petir tiba-tiba
menghajarku. Sudahlah, mungkin
lebih baik aku membayangkan
diriku sebagai Walter Spies atau
Alain Compost; akan kuabadikan
keindahan panorama hujan.
Tidak. Aku bukan mereka. Aku
cuma punya kata-kata. Bukan
kuas atau kamera. Namun kata-
kata yang berhamburan dari
mulutku pasti tak akan kamu
mengerti sepenuhnya jika kita
berbicara. Kamu akan
membutuhkan waktu untuk
mengenali warna suaraku yang
kacau intonasinya, seperti
teman-teman dekatku. Mungkin
cukup lama. Apakah kita akan
bertemu dan bicara seolah
kawan lama dengan akrabnya?
Atau kaku lalu merasa sia-sia?
Aku bukan May Ziadah, Elizabeth
Whitcomb, Mabel Hubbard-
Graham Bell, Marlee Matlin, atau
Jane Mawar. Atau perpaduan
perempuan mana yang pernah
kau kenal.Hujan
Mungkin inilah hasil yang saya peroleh dari uték-uték hp, kiranya sangat sederhana bagi anda,tapi bagi saya, sangatlah melegakan. . . .
Tujuan kami, tidak lain hanyalah untuk saling berbagi, krena hidup terasa indah dengan berbagi..
Thanks telah mampir !
dari kami selamat membaca
Laman
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kami tunggu kritik dan saran yang membangun dari anda !!!